Langit Sumedang baru saja selesai diguyur hujan ketika aku
membuka pesan itu.
Satu tulisan panjang dari seseorang yang dulu hanya kukenal
sebagai lelaki paling berisik di lantai tiga Pentagon. Lelaki yang suaranya
selalu lebih dulu terdengar daripada langkah kakinya. Ia membaca puisi di
tangga. Berdebat soal sastra di koridor. Menulis esai di koran-koran kampus dan
daerah. Sedangkan aku?
Aku hanya perempuan yang duduk di pojok ruangan.
Diam.
Mencatat kata-kata yang bahkan tak cukup berani kutunjukkan
kepada dunia.
Aku membaca tulisannya perlahan sambil memegang cangkir kopi
hitam yang mulai mendingin. Sesekali tersenyum kecil. Sesekali dadaku terasa
sesak.
“Perempuan yang Diam di Pojok Pentagon.”
Aku tak tahu ternyata selama itu ia mengingatku.
Malam itu sekolah baru benar-benar sepi pukul setengah
sembilan.
Lampu ruang kepala sekolah masih menyala ketika Pak Dedi,
penjaga sekolah, mengetuk pintu.
“Bu, belum pulang?”
“Sebentar lagi, Pak.”
“Dari tadi ngetik terus. Jangan lupa makan.”
Aku tertawa kecil. “Kalau saya lupa makan, nanti kopi yang
disalahkan.”
Pak Dedi ikut tertawa lalu pergi meninggalkan lorong yang
mulai dingin.
Aku kembali menatap layar laptop.
Tumpukan laporan BOS. Surat dari dinas. Komplain orang tua
murid. Jadwal guru yang bentrok. Anak-anak yang bertengkar. Proposal kegiatan
literasi yang belum selesai.
Kadang aku merasa kepalaku penuh suara.
Dan menulis adalah satu-satunya tempat paling sunyi yang
kupunya.
Aku membuka folder lama bernama Pentagon.
Di sana masih tersimpan cerpen-cerpen masa kuliah. File
kusam dengan judul aneh-aneh. Tentang hujan. Tentang perempuan yang takut
bicara. Tentang seseorang yang terlalu percaya diri membaca puisinya di depan
banyak orang.
Aku tersenyum lagi.
“Masih saja berisik rupanya,” gumamku pelan.
Ponselku berbunyi.
Satu pesan masuk darinya.
“Kamu benar-benar masih menulis?”
Aku mengetik jawaban, lalu menghapusnya. Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Aneh.
Dua puluh tiga tahun berlalu, tapi laki-laki itu masih bisa membuatku
kikuk seperti mahasiswi semester dua.
Akhirnya kukirim satu kalimat pendek.
“Kalau tidak menulis, mungkin saya sudah gila.”
Centang dua. Lalu mengetik…
“Saya justru hampir gila karena berhenti menulis.”
Aku terdiam cukup lama membaca balasan itu.
Di luar, hujan turun lagi.
Aku jadi mengingat Pentagon.
Lantai tiga yang pengap. Bau buku dan asap rokok. Suara
mesin tik tua. Orang-orang yang merasa akan mengubah dunia lewat sastra.
Ia selalu ada di tengah keramaian itu.
Sementara aku memilih sudut.
Bukan karena sombong. Aku hanya takut suaraku tidak penting.
Suatu sore pernah kulihat ia membacakan puisi di depan
teman-temannya. Semua tertawa dan bertepuk tangan.
Sedangkan aku menyembunyikan cerpen di balik map biru.
“Kenapa nggak dikirim?” tanya Nina, teman kelasku waktu itu.
Aku mengangkat bahu. “Takut jelek.”
“Kalau jelek ya diperbaiki.”
“Tapi kalau ditertawakan?”
Nina terkekeh. “Semua penulis pernah ditertawakan.”
Aku tidak jadi mengirimkannya.
Dan lelaki itu mungkin tak pernah tahu, beberapa cerpennya
justru diam-diam kusimpan sebagai keberanian kecil agar aku tetap mau menulis.
“Bu, anak-anak OSIS sudah datang.”
Suara wakasek membuyarkan lamunanku.
Aku segera menutup laptop.
Hari itu sekolah sedang menyiapkan festival literasi. Aula
penuh poster. Anak-anak sibuk latihan baca puisi dan musikalisasi.
Di tengah keramaian, seorang guru mendekat sambil mengeluh
pelan.
“Bu, jujur saya capek. Administrasi makin banyak. Kadang
saya lupa kenapa dulu jadi guru.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Kalimat itu terasa begitu akrab.
Dulu mungkin itu juga yang terjadi padanya.
Lelaki yang sekarang menulis regulasi sampai larut malam
demi ribuan guru, tapi perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Aku tersenyum tipis.
“Pak,” kataku pelan, “jangan biarkan pekerjaan mengambil
semua suara dalam kepala kita.”
Beliau mengernyit.
“Maksudnya?”
“Sisakan sedikit ruang buat diri sendiri tetap hidup.”
Guru itu diam. Lalu mengangguk kecil.
Dan entah kenapa, saat mengatakan itu, aku seperti sedang
berbicara kepada seseorang yang sangat jauh.
Malamnya aku membalas tulisannya lebih panjang.
“Kita mungkin memilih jalan berbeda. Saya mewaraskan diri
lewat tulisan. Abang mewaraskan banyak orang lewat kebijakan. Jangan terlalu
keras pada diri sendiri. Tidak semua orang kuat menanggung ribuan nasib di meja
kerjanya setiap hari.”
Tak lama ia membalas.
“Tapi saya iri. Kamu tetap menjaga perempuan di pojok
Pentagon itu hidup.”
Aku memandang pesan itu lama sekali.
Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku
menulis dengan mata basah.
“Tidak. Perempuan itu juga pernah hampir mati. Bedanya, saya
buru-buru menyelamatkannya.”
Di luar jendela, hujan reda perlahan.
Aku menyesap kopi yang mulai dingin.
Pahitnya masih sama seperti dua puluh tiga tahun lalu.
Bedanya sekarang aku tahu: tidak semua orang yang ramai
benar-benar bersuara, dan tidak semua orang yang diam kehilangan kata-kata.
Ada yang tetap hidup karena sastra. Ada yang tetap bertahan
karena kebijakan.
Dan mungkin, pada akhirnya, kami hanya dua manusia yang
sama-sama sedang belajar mewaraskan hidup dengan cara berbeda.
18 Mei 2026
