Rabu, 21 Oktober 2026

Api di Punggung Tampomas



Tanah di lahan praktik sekolahku pecah-pecah. Retakannya memanjang seperti urat pada telapak tangan seorang lelaki tua. Ketika cangkul kutancapkan, yang terdengar bukan bunyi tanah basah yang terbelah, melainkan suara keras dan kering.

Tak!

Cangkulku terpental. Aku mengusap keringat yang mengalir dari pelipis.

“Masih keras, Lif?”

Aku menoleh. Raka berdiri beberapa meter di belakangku sambil membawa ember kosong.

“Bukan keras lagi, Rak. Ini tanah kayak batu.”

Raka tertawa kecil. “Ya, namanya juga musim kemarau.”

Aku tidak menjawab. Aku kembali memandang petak lahan yang menjadi tanggung jawab kelompok kami. Seharusnya minggu ini kami sudah mulai menanam. Tetapi tanah terlalu kering. Air di bak penampungan sekolah juga semakin sedikit.

Aku Alif, murid kelas XI di  SMK Negeri Pertanian di kaki Gunung Tampomas Sumedang. Aku memilih sekolah ini karena sejak kecil aku suka melihat sawah, kebun, dan bukit-bukit yang mengelilingi kampungku yang juga berada di kaki gunung tertinggi dan bersejarah di Kota Tahu ini. Aku pernah membayangkan menjadi petani yang mampu mengolah tanah dengan ilmu, bukan hanya dengan tenaga. Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa tanah sedang menguji cita-citaku.

“Kalau begini terus, kapan kita tanam?” keluh Raka.

Aku mengangkat bahu. Entahlah. Aku sendiri tidak tahu.

Dari kejauhan, Gunung Tampomas tampak membiru di balik udara yang berdebu. Gunung itu seperti biasa, diam, kokoh, dan seolah menyimpan terlalu banyak cerita yang tidak pernah selesai diceritakan. Aku menatapnya cukup lama. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat Kakek.

Malamnya, aku duduk di serambi bersama Kakek. Nenek sedang memilah sayuran di dapur. Ibu baru selesai membereskan piring makan.

“Lif,” panggil Kakek.

“Iya, Kek?”

“Di sekolah bagaimana?”

Aku menghela napas. “Lahannya susah diolah. Tanah kering. Air juga terbatas.”

Kakek diam. Tangannya mengusap tongkat kayu yang selalu berada di sampingnya.

“Musim kemarau memang begitu.”

Aku mengangguk. Lalu tanpa sadar aku bertanya, “Kek…”

“Hmm?”

“Dulu waktu Alif kecil, Kakek pernah cerita tentang Tampomas, kan?”

Kakek menoleh. “Cerita yang mana?”

“Yang kalau salah satu sisi Gunung Tampomas terbakar…”

Kakek tersenyum.

“Oh ….” Nenek yang sejak tadi berada di dapur tiba-tiba ikut menyahut. “Cerita itu lagi?”

Aku tersenyum. “Alif lupa, Nek. Makanya mau dengar lagi.”

Kakek menarik napas panjang. “Orang-orang tua dulu sering bilang, kalau pada musim kemarau salah satu sisi Gunung Tampomas terbakar, itu menjadi pertanda bahwa kemarau akan segera berakhir dan hujan akan datang.”

Aku terdiam. “Benarkah, Kek?”

Kakek tertawa kecil. “Benar menurut cerita yang Kakek dengar dari orang tua Kakek.”

“Jadi memang kalau gunung terbakar, pasti hujan?”

Kakek menggeleng. “Nah, itu yang jangan kamu telan mentah-mentah.”

Aku mengernyitkan dahi. “Lalu?”

“Kepercayaan masyarakat bukan selalu soal benar atau salah. Kadang di dalam cerita lama ada cara orang zaman dahulu membaca alam.”

Nenek ikut duduk di samping kami. “Dulu orang belum punya banyak alat untuk melihat prakiraan cuaca seperti sekarang.”

Kakek melanjutkan, “Mereka mengamati langit, angin, suhu, tumbuhan, hewan, air, dan gunung. Dari pengamatan yang berulang, lahirlah cerita yang diwariskan.”

Aku memandang Tampomas yang hanya tampak sebagai bayangan hitam di kejauhan.

“Jadi cerita tentang api itu…”

“Bisa jadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan,” kata Kakek.

“Bisa jadi juga kepercayaan,” tambah Nenek.

Kakek tersenyum.

“Yang penting, jangan buru-buru mengejek cerita orang tua. Tetapi jangan pula langsung menganggapnya sebagai hukum alam.”

Aku tersenyum. Kalimat itu sederhana. Namun malam itu, entah mengapa, aku menyimpannya dalam-dalam.

Hari-hari berikutnya semakin panas. Di sekolah, kami tetap berusaha mengolah lahan. Bu Ranti, Guru Produktif, membagi kami ke dalam beberapa kelompok.

“Anak-anak,” katanya, “kondisi lahan seperti ini justru menjadi pembelajaran. Petani tidak hanya belajar menanam ketika keadaan ideal. Petani harus mampu membaca keadaan.”

Pak Herman, Guru Produktif yang lebih muda dari Bu Ranti, menambahkan, “Cari cara menghemat air. Jangan semua masalah diselesaikan dengan menyiram sebanyak-banyaknya.”

Kami berdiskusi. Ada yang mengusulkan mulsa. Ada yang ingin membuat penampungan air sederhana. Ada yang mencari jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Aku ikut mencatat. Namun dalam hati, aku masih memikirkan cerita Kakek. Tentang Tampomas. Tentang api. Tentang hujan.

Suatu siang, ketika kami sedang beristirahat, Guru Sejarah kami, Pak Surya, datang menghampiri. “Kalian tahu kenapa banyak masyarakat memiliki cerita tentang gunung?”

Kami saling berpandangan. “Karena gunung itu penting bagi kehidupan manusia,” jawabku.

Pak Surya tersenyum. “Bagus, Alif.”

Beliau kemudian bercerita bahwa masyarakat di berbagai daerah memiliki hubungan yang kuat dengan alam. Gunung bukan sekadar bentang alam. Ia menjadi sumber air, penanda musim, ruang hidup, sekaligus bagian dari ingatan budaya.

“Termasuk cerita tentang Tampomas,” katanya.

Aku langsung memperhatikan. “Pak, apakah benar ada kepercayaan masyarakat Sumedang bahwa kebakaran di salah satu sisi Tampomas menjadi pertanda berakhirnya kemarau?”

Pak Surya tersenyum. “Itu bagian dari cerita tutur yang berkembang di masyarakat. Kalian boleh menuliskannya sebagai kepercayaan atau kearifan lokal, tetapi jangan menyatakan bahwa kebakaran gunung secara ilmiah pasti menyebabkan hujan.”

Aku mengangguk. “Lalu bagaimana kalau kami menulisnya dalam cerpen?”

“Nah,” katanya, “justru di situlah sastra bekerja.”

“Bagaimana, Pak?”

“Cerpen tidak harus membuktikan apakah kepercayaan itu benar. Cerpen dapat memperlihatkan bagaimana sebuah cerita diwariskan, dipercaya, dipertanyakan, kemudian dimaknai kembali oleh generasi muda.”

Aku terdiam. Rasanya seperti mendapatkan jawaban dari sesuatu yang sejak beberapa hari mengganggu pikiranku.

Sore itu, ketika kami akan pulang sekolah, Raka tiba-tiba berteriak.

“Lif!”

Aku menoleh.

“Lihat!”

Kami berhenti.

Di kejauhan, di salah satu sisi Gunung Tampomas, terlihat kepulan asap. Awalnya kecil. Lalu semakin jelas. Beberapa murid mulai mengeluarkan telepon genggam.

“Gunung kebakaran!”

“Serius?”

“Lihat! Ada api!”

Jantungku berdegup lebih cepat. Aku teringat Kakek. Kalau salah satu sisi Tampomas terbakar, kemarau akan segera berakhir. Malamnya, aku menceritakan kejadian itu kepada Kakek. Kakek tidak langsung menjawab. Ia justru memandangku lama.

“Jangan bergembira karena gunung terbakar, Lif.”

Aku terdiam. “Kenapa, Kek?”

“Karena api di hutan bukan sesuatu yang boleh kita tunggu sebagai pertanda.”

Nenek mengangguk. “Kalau benar terjadi kebakaran, yang pertama harus dipikirkan adalah keselamatan alam dan manusia.”

Aku menunduk.

Kakek kemudian berkata, “Kalau nanti hujan datang, syukuri hujannya. Kalau ternyata hujan belum datang, jangan salahkan ceritanya.”

Aku tersenyum kecil. “Berarti Kakek tidak percaya?”

Kakek tertawa. “Kakek percaya pada cerita sebagai warisan. Tetapi Kakek juga percaya bahwa kamu harus menggunakan ilmu untuk memahami alam.”

Aku terdiam. Barangkali itulah yang selama ini tidak kupahami.

Keesokan harinya, Ibu Kepala Sekolah datang ke lahan praktik. Beliau melihat tanah yang kering, tanaman yang mulai layu, dan bak penampungan air yang hampir kosong.

“Bagaimana kondisi kalian?” tanyanya.

“Sulit, Bu,” jawabku.

Beliau tersenyum. “Sulit bukan berarti berhenti.”

Beliau kemudian duduk bersama kami. “Coba pikirkan. Apa yang bisa kita lakukan?”

Kami mulai menyampaikan pendapat. Mulsa. Penghematan air. Pemilihan tanaman. Pengolahan tanah yang tidak berlebihan. Pemanfaatan bahan organik.

Bu Isma mendengarkan satu per satu. “Bagus. Sekolah ini bukan tempat untuk menunggu keadaan menjadi mudah. Sekolah adalah tempat kalian belajar menghadapi keadaan yang tidak mudah.”

Aku menatap beliau. Kalimat itu seperti menyalakan sesuatu dalam pikiranku. Aku tiba-tiba teringat kata-kata Kakek. Cerita boleh diwariskan. Alam harus dipelajari.

Hari itu, kelompok kami membuat rencana sederhana. Kami menggunakan bahan organik yang tersedia, menutup sebagian permukaan tanah untuk menjaga kelembapan, mengatur jadwal penyiraman, dan membuat penampungan air sederhana. Kami tidak tahu apakah hasilnya akan berhasil. Tetapi setidaknya kami tidak lagi hanya mengeluh tentang kemarau. Kami mulai belajar berdamai dengannya.

Beberapa hari kemudian, langit berubah. Pagi masih panas. Siang masih menyengat. Namun menjelang sore, angin bertiup lebih lembut. Aku berdiri di halaman sekolah dan menatap Tampomas. Awan mulai berkumpul. Raka datang berlari.

“Lif!”

“Apa?”

“Kayaknya hujan!”

Aku tertawa. “Jangan-jangan karena Tampomas.”

Raka ikut tertawa.

Tidak lama kemudian, setetes air jatuh di tanganku.

Tik.

Aku menatap telapak tangan. Setetes lagi.

Tik. Tik.

Lalu semakin banyak.

Anak-anak bersorak. Kami berlari ke halaman. Hujan turun. Bukan hujan yang langsung deras. Tetapi cukup untuk membuat aroma tanah yang lama kering kembali memenuhi udara.

Aku menutup mata. Aku teringat Kakek. Aku teringat cerita masa kecilku. Aku teringat tanah di lahan praktik. Aku juga teringat pesan Pak Surya  dan Ibu Kepala Sekolah. Aku tidak tahu apakah hujan itu datang karena pertanda dari Tampomas. Aku tidak tahu apakah cerita Kakek benar secara ilmiah. Dan sekarang aku tidak merasa harus mengetahui jawabannya. Sebab aku mulai memahami sesuatu yang lebih penting. Cerita adalah cara manusia menjaga ingatan. Ilmu adalah cara manusia memahami kehidupan.Dan keduanya tidak harus saling meniadakan.

Seminggu kemudian, lahan praktik sekolah berubah. Tanah yang sebelumnya keras mulai lembap. Benih-benih yang kami tanam perlahan menunjukkan kehidupan. Satu per satu tunas kecil muncul. Aku jongkok di antara bedengan. Jari-jariku menyentuh tanah.

Dulu aku mengira menjadi murid SMK Negeri Pertanian berarti belajar bagaimana menanam. Ternyata lebih dari itu. Aku belajar membaca tanah. Belajar memahami air. Belajar menghormati alam. Dan belajar mendengarkan cerita orang-orang yang hidup jauh sebelumku.

Sepulang sekolah, aku kembali duduk bersama Kakek.

“Sudah hujan, Kek.”

Kakek tersenyum. “Syukurlah.”

“Berarti cerita Kakek benar?”

Kakek tertawa. “Menurutmu?”

Aku ikut tertawa. “Entahlah.”

“Nah, itu jawaban yang bagus.”

Aku memandang Tampomas dari kejauhan. Gunung itu kembali tenang. Tidak ada api. Tidak ada asap. Hanya hijau pepohonan dan kabut tipis yang menggantung di lerengnya. Aku baru sadar, mungkin yang diwariskan Kakek kepadaku bukanlah keyakinan bahwa api di Tampomas akan mendatangkan hujan. Yang diwariskannya adalah sebuah pesan: Dengarkan alam. Hormati cerita leluhur. Tetapi gunakan ilmu untuk memahami keduanya.

Aku tersenyum. Besok pagi aku akan kembali ke sekolah. Masih ada lahan yang harus diolah. Masih ada tanaman yang harus dirawat. Masih ada pelajaran yang harus dipelajari. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika aku menjadi petani atau guru atau siapa pun aku kelak, aku akan menceritakan kisah yang sama kepada anak-anak setelahku. Bukan untuk membuat mereka percaya begitu saja. Melainkan agar mereka tahu bahwa di tanah Sumedang ini, pernah hidup orang-orang yang membaca tanda-tanda alam dengan caranya sendiri. Dan bahwa setiap cerita yang diwariskan selalu menyimpan jejak kehidupan.

Aku menatap Tampomas sekali lagi. Gunung itu tetap diam. Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ia sedang bercerita. Tentang tanah. Tentang hujan. Tentang manusia. Dan tentang sebuah warisan yang tidak boleh hilang begitu saja.***

Sumedang, 9 Agustus 2026


 

Minggu, 06 September 2026

RANCANGAN PROYEK TRANSFORMASI KEPEMIMPINAN SEKOLAH LITERASI 360° AGROHUMANIORA “Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan Karya, dan Memuliakan Kehidupan”

 




Sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, melainkan ruang tempat peserta didik membangun pengetahuan, karakter, keterampilan, dan kesiapan untuk menghadapi kehidupan. Dalam konteks pendidikan vokasi, proses tersebut perlu berlangsung secara lebih kontekstual karena pembelajaran tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan membaca persoalan nyata, mengambil keputusan, menghasilkan karya, serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Atas dasar pemikiran tersebut, Rancangan Proyek Transformasi Kepemimpinan Sekolah di SMK PP Negeri Sumedang diarahkan melalui gagasan “LITERASI 360° AGROHUMANIORA” dengan slogan “Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan Karya, dan Memuliakan Kehidupan”.

Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa sekolah telah memiliki sejumlah praktik baik literasi, seperti HANJELI, NUBAR, SIBAREV SAMI SABU, Festival Literasi dan Numerasi, serta LITERA. Tantangannya bukan semata-mata menghadirkan program baru, melainkan menyatukan praktik-praktik yang sudah tumbuh tersebut ke dalam arah perubahan yang sama sehingga literasi tidak berjalan sebagai kegiatan yang terpisah. Transformasi yang diharapkan adalah perubahan dari program menjadi budaya, dari instruksi menjadi kolaborasi, dari kegiatan menjadi sistem, dan dari output menjadi dampak.

SMK PP Negeri Sumedang memiliki kekuatan yang sangat relevan untuk mengembangkan model tersebut. Sebagai satuan pendidikan vokasi dengan karakter bidang agribisnis dan agroteknologi, sekolah memiliki konteks yang kaya untuk mengembangkan literasi yang berhubungan dengan pertanian, pangan, lingkungan, teknologi, kewirausahaan, dunia kerja, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, literasi dalam proyek ini dimaknai secara luas: peserta didik tidak hanya membaca teks, tetapi juga membaca data, fenomena pertanian, informasi teknologi, peluang usaha, persoalan lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diolah menjadi gagasan, karya, dan solusi yang bermakna.

Latar Belakang dan Urgensi Transformasi

SMK PP Negeri Sumedang merupakan satuan pendidikan vokasi negeri di Kabupaten Sumedang yang memiliki karakter kuat pada bidang pertanian. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan budaya literasi yang kontekstual. Sekolah telah memiliki pengalaman dan jejak praktik baik literasi melalui berbagai kegiatan. Namun, praktik yang telah ada masih perlu diperkuat agar tidak berhenti sebagai kumpulan kegiatan. Literasi perlu menjadi bagian dari ekosistem belajar yang hadir dalam pembelajaran lintas mata pelajaran, termasuk mata pelajaran kejuruan.

Kondisi tersebut melahirkan kebutuhan akan perubahan cara pandang. Literasi tidak cukup dipahami sebagai kegiatan membaca buku atau kegiatan tertentu pada waktu tertentu. Literasi perlu menjadi kemampuan hidup: kemampuan menemukan informasi, memahami dan mengolahnya, menganalisis persoalan, berkomunikasi, menghasilkan karya, merefleksikan pengalaman, dan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah. Bagi peserta didik SMK pertanian, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena dunia kerja dan kehidupan masyarakat menuntut mereka untuk mampu membaca perubahan teknologi, memahami data produksi, melihat peluang kewirausahaan, memperhatikan keberlanjutan lingkungan, serta memahami kebutuhan masyarakat.

Oleh sebab itu, transformasi kepemimpinan sekolah diperlukan agar praktik baik yang sudah dimiliki sekolah dapat menjadi sistem yang terintegrasi, terukur, terdokumentasi, direfleksikan, dan berkelanjutan. Alur perubahan yang menjadi pijakan adalah “Membaca → Memahami → Mengolah → Menulis → Berkarya → Berbagi → Berdampak”. Alur ini kemudian dipadatkan ke dalam model tujuh langkah LITERASI 360°, yaitu READ, UNDERSTAND, ANALYZE, WRITE, CREATE, SHARE, dan IMPACT.

Slogan “Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan Karya, dan Memuliakan Kehidupan” menjadi ruh yang mengikat seluruh proses tersebut. Membaca lingkungan berarti membangun kepekaan terhadap teks, data, fenomena pertanian, pangan, lingkungan, teknologi, dan kehidupan sosial. Mengolah pengetahuan berarti memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara kritis. Menghasilkan karya berarti mengubah pengetahuan menjadi produk atau gagasan yang dapat dikomunikasikan. Sementara itu, memuliakan kehidupan berarti memastikan pengetahuan dan karya menghadirkan manfaat bagi diri sendiri, sesama, lingkungan, dunia kerja, pertanian, ketahanan pangan, dan masyarakat.

Tujuan Transformasi

Tujuan umum proyek ini adalah mentransformasikan budaya literasi SMK PP Negeri Sumedang melalui kepemimpinan transformatif yang mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran, pendidikan karakter, kompetensi kejuruan, kreativitas, kewirausahaan, dan kehidupan sekolah sehingga terbentuk peserta didik yang literat, mandiri, dan kompetitif.

Secara khusus, transformasi diarahkan untuk membangun kesepahaman warga sekolah bahwa literasi merupakan tanggung jawab bersama; mengintegrasikan aktivitas literasi dalam pembelajaran lintas mata pelajaran; mengembangkan literasi yang relevan dengan bidang pertanian dan agrohumaniora; meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca, mereview, menulis, mengolah informasi, dan menghasilkan karya; membangun portofolio karya literasi peserta didik; membangun forum refleksi guru berbasis data dan pemecahan masalah; serta mendokumentasikan praktik baik agar dapat menjadi model budaya literasi yang berkelanjutan.

Sasaran proyek meliputi peserta didik, guru, wali kelas, tim literasi dan perpustakaan, tenaga kependidikan, pimpinan sekolah, komunitas belajar, orang tua atau komite, serta mitra yang relevan. Dengan sasaran yang luas tersebut, literasi ditempatkan sebagai tanggung jawab kolektif, bukan tugas satu orang atau satu tim saja.

Kepemimpinan Transformasional sebagai Penggerak Perubahan

Dalam proyek ini, kepala sekolah ditempatkan sebagai change leader. Peran kepala sekolah bukan hanya memberikan instruksi, tetapi menjadi pengarah perubahan, teladan, penggerak kolaborasi, sekaligus pengguna data untuk perbaikan. Kepemimpinan pembelajaran diwujudkan dengan memastikan literasi menjadi bagian dari proses belajar lintas mata pelajaran, termasuk mata pelajaran kejuruan.

Pengambilan keputusan dan pengelolaan perubahan menggunakan problem-solving loop sederhana, yaitu mengidentifikasi kondisi, mendengarkan warga sekolah, merancang solusi bersama, melakukan uji terbatas, mengukur hasil, melakukan refleksi, memperbaiki, kemudian memperluas praktik. Pendekatan ini menempatkan perubahan sebagai proses belajar organisasi. Data tidak digunakan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memahami kondisi, menentukan prioritas, melakukan coaching, dan memperbaiki program.

Kepemimpinan transformasional juga menuntut adanya perubahan budaya organisasi. Praktik literasi yang sebelumnya mungkin dipersepsikan sebagai kegiatan tambahan diarahkan menjadi bagian dari sistem sekolah. Kolaborasi diperkuat melalui komunitas belajar dan forum refleksi guru. Dokumentasi dan portofolio digunakan sebagai jejak perkembangan. Dengan demikian, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari perubahan kebiasaan, kualitas proses pembelajaran, kualitas karya, dan dampak yang dihasilkan.

Inovasi LITERASI 360° AGROHUMANIORA

LITERASI 360° AGROHUMANIORA merupakan model transformasi budaya sekolah yang mengintegrasikan praktik baik literasi yang telah dimiliki sekolah dengan pembelajaran dan konteks kejuruan pertanian. Model ini tidak menghapus program yang sudah ada, tetapi memberikan arah dan keterhubungan baru sehingga setiap program memiliki peran dalam satu ekosistem.

HANJELI berfungsi menumbuhkan kebiasaan dan jejak membaca. NUBAR mendorong produksi karya bersama guru dan peserta didik. SIBAREV SAMI SABU membiasakan peserta didik membaca, memahami, mereview, dan mengomunikasikan gagasan. Festival Literasi dan Numerasi menyediakan ruang apresiasi, publikasi, dan diseminasi karya. LITERA memperkuat ekosistem dan dokumentasi literasi. Sementara itu, integrasi lintas mata pelajaran memastikan literasi tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan di luar pembelajaran.

Keunikan model ini terletak pada konteks agrohumaniora. Literasi dihubungkan dengan pertanian, pangan, lingkungan, teknologi, kewirausahaan, dan masyarakat. Peserta didik dapat membaca lingkungan sekitar, mengumpulkan informasi, menganalisis persoalan, kemudian mengubahnya menjadi tulisan, infografis, video, podcast, produk, atau solusi. Karya tersebut selanjutnya dibagikan dan direfleksikan untuk melihat manfaat serta dampaknya.

Integrasi Pendidikan Karakter

LITERASI 360° AGROHUMANIORA tidak diposisikan hanya sebagai program literasi, tetapi sebagai strategi kepemimpinan untuk membangun karakter melalui pengalaman belajar yang kontekstual. Pendidikan karakter diintegrasikan ke dalam seluruh alur: Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan Karya, dan Memuliakan Kehidupan. Dengan demikian, karakter tidak diajarkan sebagai materi yang terpisah, melainkan dilatihkan melalui aktivitas nyata.

Pada tahap membaca lingkungan, peserta didik dilatih menjadi pribadi yang peduli, peka, dan memiliki rasa ingin tahu melalui kegiatan mengamati persoalan pertanian, pangan, lingkungan, dan kehidupan sosial. Pada tahap mengolah pengetahuan, peserta didik dilatih bernalar kritis, jujur, bertanggung jawab, dan disiplin ketika memilah sumber, membaca data, berdiskusi, menganalisis, serta mengambil keputusan.

Pada tahap menghasilkan karya, karakter kreatif, mandiri, tekun, kolaboratif, dan komunikatif dikembangkan melalui kegiatan menghasilkan tulisan, infografis, video, produk, atau solusi serta mempresentasikannya. Pada tahap memuliakan kehidupan, peserta didik diarahkan untuk memiliki kepedulian, akhlak, semangat gotong royong, dan orientasi kebermanfaatan dengan menggunakan pengetahuan dan karya untuk memberi manfaat bagi manusia, lingkungan, dan ketahanan pangan.

Dengan pendekatan tersebut, literasi menjadi jalan untuk menghidupkan karakter. Peserta didik tidak hanya menjadi pembaca yang baik, tetapi juga pemikir, pencipta, komunikator, kolaborator, dan pribadi yang mampu melihat hubungan antara pengetahuan dengan kehidupan. Muara akhirnya adalah kebermanfaatan: setiap pengetahuan dan karya diupayakan memiliki nilai bagi manusia, lingkungan, pertanian, pangan, dan kehidupan bersama.

Integrasi dalam Program Kokurikuler

Kokurikuler diposisikan sebagai laboratorium pengalaman yang menghubungkan pembelajaran, karakter, literasi, kompetensi kejuruan, dan kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat. Melalui kokurikuler, peserta didik memperoleh pengalaman nyata yang kemudian diproses melalui alur literasi.

Proses dimulai dari pengalaman nyata sesuai konteks sekolah. Peserta didik kemudian membaca lingkungan, instruksi, data, fenomena, informasi teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Setelah itu mereka mengolah informasi melalui diskusi, analisis, pemecahan masalah, perencanaan, dan pengambilan keputusan. Tahap berikutnya adalah berkarya dalam bentuk produk, laporan, artikel, poster, video, infografis, podcast, atau solusi. Peserta didik kemudian melakukan refleksi terhadap pengetahuan, karakter yang dilatih, tantangan, dan pembelajaran. Tahap terakhir adalah berdampak, yaitu ketika karya atau aksi memberikan manfaat bagi sekolah, lingkungan, ketahanan pangan, atau kehidupan bersama.

Implementasi dapat dilakukan melalui kegiatan HANJELI, SIBAREV SAMI SABU, NUBAR, LITERA, serta proyek lingkungan, pangan, pertanian, kewirausahaan, kampanye anti-plastik, zero waste, dan kegiatan lain yang memberi pengalaman nyata. Jejak kegiatan tersebut didokumentasikan melalui jurnal pengalaman, catatan baca atau review, LKPD, rancangan aksi, portofolio karya, jurnal refleksi, umpan balik, cerita perubahan, pameran, dan tindak lanjut.

Data kokurikuler menjadi bagian dari monitoring dan evaluasi. Yang dilihat bukan hanya kehadiran atau jumlah kegiatan, tetapi partisipasi peserta didik, kualitas proses, portofolio karya, refleksi, perkembangan karakter, dan dampak. Data digunakan sebagai bahan coaching, refleksi guru, perbaikan program, dan pengambilan keputusan kepala sekolah.

Strategi Implementasi

Pelaksanaan proyek dirancang dalam tiga fase selama enam bulan. Fase pertama adalah persiapan pada bulan pertama. Fokusnya meliputi penyusunan baseline, pemetaan praktik baik, analisis kebutuhan, pembentukan atau peneguhan tim, penyusunan indikator, sosialisasi, dan penyusunan perangkat. Tahap ini penting karena target akhir harus disesuaikan dengan kondisi riil sekolah.

Fase kedua adalah implementasi pada bulan kedua sampai keempat. Pada fase ini dilakukan penguatan HANJELI, NUBAR, SIBAREV SAMI SABU, dan LITERA; integrasi literasi dalam pembelajaran; pengembangan portofolio karya; penguatan literasi agrohumaniora; serta pelaksanaan forum refleksi guru. Kegiatan berjalan secara kolaboratif dengan memanfaatkan sumber daya yang telah tersedia.

Fase ketiga adalah refleksi dan pemantapan pada bulan kelima sampai keenam. Kegiatan meliputi pengukuran akhir, analisis portofolio, survei, forum refleksi, Festival Literasi 360°, dokumentasi praktik baik, penyusunan SOP sederhana, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Dengan tahapan tersebut, proyek tidak berhenti pada pelaksanaan, tetapi bergerak menuju pembakuan dan keberlanjutan.

Mitra yang dilibatkan meliputi kepala sekolah atau pimpinan, guru, wali kelas, pustakawan atau tim literasi, peserta didik, komunitas belajar, komite atau orang tua, serta mitra pertanian, dunia kerja, atau komunitas literasi sesuai kebutuhan. Prinsip sumber daya yang digunakan adalah memaksimalkan aset yang sudah tersedia, sementara tambahan anggaran hanya diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar diperlukan.

Monitoring, Evaluasi, dan Penggunaan Data

Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan prinsip before-after: baseline, implementasi, pengukuran akhir, refleksi, dan perbaikan. Indikator yang dipantau meliputi kebiasaan membaca dan mereview, partisipasi siswa dan guru, integrasi literasi dalam pembelajaran, jumlah dan mutu karya, kemampuan memahami dan mengolah informasi, persepsi budaya literasi, forum refleksi dan tindak lanjut, serta keberlanjutan program dalam agenda sekolah.

Instrumen yang digunakan mencakup jurnal literasi mingguan, rekap partisipasi bulanan, observasi atau cek perangkat ajar, rubrik karya, tugas atau rubrik pemahaman, survei awal-akhir, notulen forum refleksi, dan dokumen program sekolah. Data kualitatif berupa cerita perubahan, dokumentasi, dan umpan balik digunakan untuk melengkapi data kuantitatif.

Survei awal dan akhir menggunakan instrumen yang sama agar perubahan dapat dibandingkan. Aspek yang digali mencakup kebiasaan membaca, kemampuan menemukan dan memilah informasi, kemampuan memeriksa sumber digital, kemampuan menyampaikan kembali isi bacaan, kemampuan menulis gagasan, ketertarikan pada topik pertanian dan agrohumaniora, pengalaman menghasilkan karya, kepercayaan diri dalam mempresentasikan karya, relevansi literasi dengan pembelajaran kejuruan, ruang yang diberikan sekolah, dan dukungan guru.

Observasi guru diarahkan pada keberadaan aktivitas membaca atau mengakses informasi yang relevan, kemampuan peserta didik memahami dan menganalisis informasi, keberadaan tulisan atau karya, keterkaitan literasi dengan materi atau kejuruan, serta adanya refleksi dan umpan balik. Rubrik karya menilai pemahaman isi, pengolahan informasi, kualitas gagasan, konteks agrohumaniora, bahasa dan komunikasi, kreativitas, serta dampak atau manfaat.

Prinsip penting dalam monitoring adalah bahwa data bukan alat untuk menghukum guru. Data merupakan informasi perkembangan yang digunakan untuk coaching, refleksi, perbaikan pembelajaran, dan pengambilan keputusan. Dengan cara tersebut, monitoring menjadi bagian dari budaya belajar organisasi.

Indikator Keberhasilan

Keberhasilan proyek dirancang menggunakan prinsip SMART dan tetap harus divalidasi berdasarkan baseline internal sekolah. Sasaran awal yang disarankan dalam rancangan meliputi sedikitnya 70 persen guru sasaran menerapkan aktivitas literasi pada bulan kedua sampai keempat; sedikitnya 80 persen siswa sasaran memiliki jejak atau portofolio literasi pada bulan kedua sampai keenam; sedikitnya 70 persen karya sampel mencapai minimal kategori Baik pada bulan ketiga sampai keenam; forum refleksi guru berlangsung satu kali setiap bulan; persepsi budaya literasi meningkat sekurang-kurangnya 15 persen dari baseline; dan praktik proyek masuk ke dalam program kerja sekolah melalui sedikitnya satu dokumen atau agenda resmi pada akhir bulan keenam.

Angka-angka tersebut merupakan target awal yang disarankan, bukan angka final. Validasi terhadap baseline internal diperlukan sebelum proyek disahkan agar indikator benar-benar mencerminkan kondisi sekolah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dampak yang Diharapkan

Bagi peserta didik, proyek diharapkan meningkatkan kebiasaan membaca, kemampuan memahami dan mengolah informasi, kemampuan menyampaikan gagasan, kualitas karya, kepercayaan diri, serta relevansi literasi dengan dunia kerja dan kehidupan. Peserta didik diharapkan mengalami perubahan dari sekadar menerima informasi menjadi individu yang mampu membaca realitas, mengolah pengetahuan, menciptakan karya, dan memberi dampak.

Bagi guru, proyek diharapkan meningkatkan kesadaran bahwa literasi merupakan tanggung jawab lintas mata pelajaran, kemampuan mengintegrasikan aktivitas literasi dalam pembelajaran, dan budaya refleksi berbasis data. Guru tidak hanya menjadi pelaksana pembelajaran, tetapi juga pembelajar yang terus memperbaiki praktik.

Bagi sekolah, dampak yang diharapkan adalah terbentuknya budaya membaca, berpikir, berkarya, dan berbagi yang terdokumentasi dan terukur. Budaya tersebut menjadi bagian dari identitas sekolah serta mendukung visi pendidikan yang menghubungkan kompetensi, karakter, literasi, pertanian, kewirausahaan, lingkungan, dan ketahanan pangan.

Keberlanjutan dan Potensi Replikasi

Keberlanjutan menjadi bagian penting dari transformasi. Program diarahkan untuk masuk ke dalam program kerja sekolah dan menjadi agenda komunitas belajar. Portofolio peserta didik dilanjutkan setiap tahun, penggerak atau duta literasi diregenerasi, dan Festival Literasi 360° dikembangkan menjadi agenda berkala. Praktik baik dapat didiseminasikan melalui FGD atau seminar sesuai ketentuan BCKS.

Model ini juga memiliki potensi untuk direplikasi. Prinsip utamanya dapat diterapkan oleh sekolah lain dengan menyesuaikan konteks. Jika SMK PP Negeri Sumedang menggunakan konteks agrohumaniora, sekolah lain dapat mengembangkan konteks sesuai karakter dan kekuatan masing-masing. Dengan demikian, yang direplikasi bukan sekadar nama program, melainkan prinsip transformasi: mengintegrasikan literasi dengan pembelajaran, karakter, konteks kehidupan, karya, refleksi, dan dampak.

Refleksi Kepemimpinan

Transformasi sekolah pada akhirnya bukan terutama tentang seberapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi tentang seberapa jauh program mampu mengubah cara warga sekolah belajar, bekerja, berkolaborasi, dan memaknai pendidikan. LITERASI 360° AGROHUMANIORA menjadi upaya untuk menyatukan praktik baik yang telah tumbuh di SMK PP Negeri Sumedang ke dalam satu ekosistem yang memiliki arah, indikator, dokumentasi, refleksi, dan keberlanjutan.

Kepala sekolah dalam proyek ini tidak berdiri sebagai pusat seluruh aktivitas, tetapi sebagai penggerak yang menumbuhkan kepemilikan bersama. Perubahan diupayakan melalui keteladanan, dialog, kolaborasi, penggunaan data, apresiasi terhadap karya, dan pembiasaan refleksi. Dengan demikian, transformasi kepemimpinan berjalan beriringan dengan transformasi budaya organisasi.

Pada akhirnya, keberhasilan LITERASI 360° AGROHUMANIORA bukan hanya ketika peserta didik mampu membaca lebih banyak atau menghasilkan lebih banyak karya. Keberhasilan yang lebih mendalam adalah ketika mereka mampu membaca lingkungan dengan kepekaan, mengolah pengetahuan dengan nalar kritis dan kejujuran, menghasilkan karya dengan kreativitas dan kemandirian, membagikannya dengan percaya diri, lalu menggunakannya untuk memberi manfaat. Di titik inilah slogan “Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan Karya, dan Memuliakan Kehidupan” menemukan maknanya.

Transformasi yang dituju adalah perjalanan dari program menjadi budaya, dari kegiatan terpisah menjadi ekosistem belajar, dan dari membaca menjadi berpikir, berkarya, merefleksi, serta berdampak. LITERASI 360° AGROHUMANIORA dengan demikian bukan hanya rancangan sebuah program, melainkan sebuah ikhtiar kepemimpinan untuk menghadirkan sekolah yang literat, berkarakter, kontekstual, produktif, dan berorientasi pada kebermanfaatan bagi manusia, lingkungan, dunia kerja, pertanian, serta ketahanan pangan.


LITERASI 360° AGROHUMANIORA merupakan gagasan transformasi yang berangkat dari kekuatan nyata SMK PP Negeri Sumedang. Jejak literasi yang telah dimiliki sekolah menjadi fondasi untuk membangun budaya yang lebih terintegrasi. Melalui kepemimpinan transformatif, kolaborasi, problem-solving loop, pendidikan karakter, kokurikuler, portofolio, monitoring, refleksi, dan keberlanjutan, literasi diarahkan menjadi bagian dari kehidupan sekolah.

Esai ini menegaskan bahwa literasi yang bermakna bukanlah aktivitas yang berhenti pada membaca. Literasi adalah proses untuk memahami kehidupan, mengolah pengetahuan, menciptakan karya, membangun karakter, dan menghadirkan dampak. Ketika literasi bertemu dengan agrohumaniora, pendidikan vokasi memiliki ruang yang kuat untuk membentuk generasi yang bukan hanya kompeten dalam bekerja, tetapi juga peduli, kritis, kreatif, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan mampu memuliakan kehidupan.


 



Sabtu, 11 Juli 2026

Teach You a Lesson: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajarkan Ilmu, tetapi Menyelamatkan Martabat Manusia

 



"Pendidikan adalah mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus membentuk karakter."

 

Drama Korea Teach You a Lesson (참교육), adaptasi webtoon Get Schooled, tayang eksklusif di Netflix mulai 5 Juni 2026 dan telah menamatkan musim pertamanya dengan 10 episode. Serial ini disutradarai oleh Hong Jong-chan serta dibintangi oleh Kim Moo-yul (Na Hwa-jin), Lee Sung-min (Choi Kang-seok), Jin Ki-joo (Im Han-rim), dan Pyo Ji-hoon/P.O (Bong Geun-dae). Berlatar dunia pendidikan, drama ini mengikuti tim Educational Rights Protection Bureau (ERPB) yang turun tangan ketika sekolah gagal melindungi guru maupun murid dari berbagai bentuk kekerasan dan penyimpangan.

 Berbeda dengan drama sekolah yang berfokus pada kisah cinta remaja, Teach You a Lesson justru menyuguhkan potret pendidikan yang keras, penuh konflik, sekaligus sangat dekat dengan realitas yang dihadapi banyak sekolah saat ini. Setiap episode menghadirkan persoalan yang berbeda, tetapi saling berkaitan sebagai cermin rapuhnya karakter ketika pendidikan kehilangan ruhnya.

 Drama ini tidak hanya berbicara tentang perundungan antarmurid, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang guru dapat menjadi korban intimidasi murid, bahkan sebaliknya guru pun bisa menjadi pelaku kekerasan terhadap peserta didik. Ada murid yang sulit diatur hingga membentuk kelompok gangster, penyalahgunaan narkoba, siswa yang menjadi pengedar, kejahatan siber, tekanan orang tua yang menginginkan anaknya selalu sempurna, ambisi yang mendorong sebagian guru melakukan kecurangan, hingga murid berprestasi dari keluarga sederhana yang justru menjadi sasaran ketidakadilan.

 Episode ketujuh menjadi salah satu bagian yang paling membekas. Kisahnya mengangkat fenomena judi online yang berujung pada jeratan pinjaman online. Yang menarik, drama ini tidak hanya memperlihatkan penderitaan pelaku, tetapi juga menghadirkan sudut pandang keluarga sebagai korban sesungguhnya. Orang tua dipaksa menjual harga dirinya, memohon belas kasihan, bahkan menanggung utang yang tidak pernah mereka buat. Judol dan pinjol digambarkan bukan sekadar menghancurkan masa depan seorang remaja, melainkan juga meruntuhkan kehormatan seluruh keluarga.

 Dari episode inilah muncul kalimat yang sangat kuat:

 "Kebebasan ada jika kalian bertanggung jawab." (Teach You a Lesson, Episode 7)

 Kalimat tersebut mengingatkan bahwa kebebasan bukan berarti melakukan apa saja tanpa batas. Kebebasan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Ketika seseorang menggunakan kebebasannya tanpa kendali, ia tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri, tetapi juga melukai orang-orang yang paling mencintainya.

 Namun, semakin jauh mengikuti alur cerita, saya menyadari bahwa inti Teach You a Lesson bukan hanya tentang menghukum pelaku. Drama ini justru mengajak penonton memahami bahwa hampir semua tindakan buruk berawal dari emosi yang tidak pernah disembuhkan. Kehilangan, kemarahan, rasa dipermalukan, trauma, dan keinginan membalas dendam menjadi benih yang kemudian tumbuh menjadi kekerasan.

 Di sinilah makna pendidikan yang sesungguhnya terasa sangat relevan.

 Pendidikan bukan hanya mengajarkan rumus, teori, atau keterampilan kerja. Pendidikan adalah proses membentuk manusia agar mampu mengendalikan dirinya ketika marah, tetap jujur ketika memiliki kesempatan berbuat curang, tetap rendah hati ketika berhasil, serta tetap memiliki empati ketika berhadapan dengan orang yang lemah.

 Sekolah yang megah memang membanggakan. Gedung yang modern memang penting. Fasilitas yang lengkap tentu diperlukan. Akan tetapi, semuanya akan kehilangan makna apabila tidak berhasil melahirkan manusia yang bermartabat.

 Karena sesungguhnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari berapa banyak siswa diterima di perguruan tinggi atau bekerja di perusahaan besar. Keberhasilan pendidikan adalah ketika lulusan mampu menjadi manusia yang tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak merendahkan orang lain, tidak terjerumus dalam kejahatan, serta berani bertanggung jawab atas setiap pilihannya.

 Sebagai seorang pendidik dan pemimpin pembelajaran, saya merasa drama ini menghadirkan refleksi yang sangat kuat. Tidak semua persoalan siswa dapat diselesaikan dengan hukuman. Tidak semua kenakalan lahir dari niat jahat. Kadang, yang mereka butuhkan adalah orang dewasa yang mau hadir, mendengar, memahami, sekaligus berani menegakkan batas dengan kasih sayang.

 Kelebihan terbesar Teach You a Lesson adalah keberaniannya mengangkat isu-isu pendidikan yang sering dianggap tabu. Ceritanya berani, relevan, emosional, dan membuka ruang diskusi mengenai hak guru, perlindungan siswa, peran keluarga, hingga pentingnya pendidikan karakter. Akting para pemain juga sangat kuat sehingga setiap konflik terasa hidup dan menyentuh.

 Meski demikian, drama ini juga memiliki kekurangan. Beberapa penyelesaian konflik terasa sangat dramatis dan penuh aksi sehingga tidak selalu realistis untuk diterapkan dalam dunia pendidikan nyata. Ada adegan kekerasan yang cukup intens sehingga kurang sesuai bagi penonton usia muda tanpa pendampingan orang dewasa.

 Karena itu, menurut saya drama ini sangat layak ditonton oleh guru, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa kependidikan, pembuat kebijakan pendidikan, maupun masyarakat umum yang ingin memahami kompleksitas persoalan sekolah masa kini. Namun, yang perlu diambil bukanlah cara penyelesaiannya, melainkan nilai-nilai refleksi yang ditawarkan.

 Setelah menyelesaikan seluruh episode Teach You a Lesson, saya semakin yakin bahwa pendidikan bukan sekadar mempersiapkan anak menghadapi ujian, melainkan mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.

 Ilmu dapat membuat seseorang berhasil.

 Keterampilan dapat membuat seseorang berkarya.

 Tetapi karakterlah yang menentukan apakah keberhasilan itu akan membawa manfaat atau justru kehancuran.

 Maka, di tengah derasnya arus teknologi, judi online, pinjaman online, narkoba, perundungan, dan berbagai tantangan zaman, tugas guru sesungguhnya bukan hanya mengajar, melainkan menjaga agar setiap anak tetap tumbuh sebagai manusia yang bermartabat. (Sumedang, 11 Juli 2026)


Sabtu, 23 Mei 2026

Perempuan yang Diam di Pojok Pentagon

 



Langit Sumedang baru saja selesai diguyur hujan ketika aku membuka pesan itu.

Satu tulisan panjang dari seseorang yang dulu hanya kukenal sebagai lelaki paling berisik di lantai tiga Pentagon. Lelaki yang suaranya selalu lebih dulu terdengar daripada langkah kakinya. Ia membaca puisi di tangga. Berdebat soal sastra di koridor. Menulis esai di koran-koran kampus dan daerah. Sedangkan aku?

Aku hanya perempuan yang duduk di pojok ruangan.

Diam.

Mencatat kata-kata yang bahkan tak cukup berani kutunjukkan kepada dunia.

Aku membaca tulisannya perlahan sambil memegang cangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Sesekali tersenyum kecil. Sesekali dadaku terasa sesak.

“Perempuan yang Diam di Pojok Pentagon.”

Aku tak tahu ternyata selama itu ia mengingatku.

Malam itu sekolah baru benar-benar sepi pukul setengah sembilan.

Lampu ruang kepala sekolah masih menyala ketika Pak Dedi, penjaga sekolah, mengetuk pintu.

“Bu, belum pulang?”

“Sebentar lagi, Pak.”

“Dari tadi ngetik terus. Jangan lupa makan.”

Aku tertawa kecil. “Kalau saya lupa makan, nanti kopi yang disalahkan.”

Pak Dedi ikut tertawa lalu pergi meninggalkan lorong yang mulai dingin.

Aku kembali menatap layar laptop.

Tumpukan laporan BOS. Surat dari dinas. Komplain orang tua murid. Jadwal guru yang bentrok. Anak-anak yang bertengkar. Proposal kegiatan literasi yang belum selesai.

Kadang aku merasa kepalaku penuh suara.

Dan menulis adalah satu-satunya tempat paling sunyi yang kupunya.

Aku membuka folder lama bernama Pentagon.

Di sana masih tersimpan cerpen-cerpen masa kuliah. File kusam dengan judul aneh-aneh. Tentang hujan. Tentang perempuan yang takut bicara. Tentang seseorang yang terlalu percaya diri membaca puisinya di depan banyak orang.

Aku tersenyum lagi.

“Masih saja berisik rupanya,” gumamku pelan.

Ponselku berbunyi.

Satu pesan masuk darinya.

“Kamu benar-benar masih menulis?”

Aku mengetik jawaban, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Aneh.

Dua puluh tiga tahun berlalu, tapi laki-laki itu masih bisa membuatku kikuk seperti mahasiswi semester dua.

Akhirnya kukirim satu kalimat pendek.

“Kalau tidak menulis, mungkin saya sudah gila.”

Centang dua. Lalu mengetik…

“Saya justru hampir gila karena berhenti menulis.”

Aku terdiam cukup lama membaca balasan itu.

Di luar, hujan turun lagi.

Aku jadi mengingat Pentagon.

Lantai tiga yang pengap. Bau buku dan asap rokok. Suara mesin tik tua. Orang-orang yang merasa akan mengubah dunia lewat sastra.

Ia selalu ada di tengah keramaian itu.

Sementara aku memilih sudut.

Bukan karena sombong. Aku hanya takut suaraku tidak penting.

Suatu sore pernah kulihat ia membacakan puisi di depan teman-temannya. Semua tertawa dan bertepuk tangan.

Sedangkan aku menyembunyikan cerpen di balik map biru.

“Kenapa nggak dikirim?” tanya Nina, teman kelasku waktu itu.

Aku mengangkat bahu. “Takut jelek.”

“Kalau jelek ya diperbaiki.”

“Tapi kalau ditertawakan?”

Nina terkekeh. “Semua penulis pernah ditertawakan.”

Aku tidak jadi mengirimkannya.

Dan lelaki itu mungkin tak pernah tahu, beberapa cerpennya justru diam-diam kusimpan sebagai keberanian kecil agar aku tetap mau menulis.

“Bu, anak-anak OSIS sudah datang.”

Suara wakasek membuyarkan lamunanku.

Aku segera menutup laptop.

Hari itu sekolah sedang menyiapkan festival literasi. Aula penuh poster. Anak-anak sibuk latihan baca puisi dan musikalisasi.

Di tengah keramaian, seorang guru mendekat sambil mengeluh pelan.

“Bu, jujur saya capek. Administrasi makin banyak. Kadang saya lupa kenapa dulu jadi guru.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kalimat itu terasa begitu akrab.

Dulu mungkin itu juga yang terjadi padanya.

Lelaki yang sekarang menulis regulasi sampai larut malam demi ribuan guru, tapi perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Aku tersenyum tipis.

“Pak,” kataku pelan, “jangan biarkan pekerjaan mengambil semua suara dalam kepala kita.”

Beliau mengernyit.

“Maksudnya?”

“Sisakan sedikit ruang buat diri sendiri tetap hidup.”

Guru itu diam. Lalu mengangguk kecil.

Dan entah kenapa, saat mengatakan itu, aku seperti sedang berbicara kepada seseorang yang sangat jauh.

Malamnya aku membalas tulisannya lebih panjang.

“Kita mungkin memilih jalan berbeda. Saya mewaraskan diri lewat tulisan. Abang mewaraskan banyak orang lewat kebijakan. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Tidak semua orang kuat menanggung ribuan nasib di meja kerjanya setiap hari.”

Tak lama ia membalas.

“Tapi saya iri. Kamu tetap menjaga perempuan di pojok Pentagon itu hidup.”

Aku memandang pesan itu lama sekali.

Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menulis dengan mata basah.

“Tidak. Perempuan itu juga pernah hampir mati. Bedanya, saya buru-buru menyelamatkannya.”

Di luar jendela, hujan reda perlahan.

Aku menyesap kopi yang mulai dingin.

Pahitnya masih sama seperti dua puluh tiga tahun lalu.

Bedanya sekarang aku tahu: tidak semua orang yang ramai benar-benar bersuara, dan tidak semua orang yang diam kehilangan kata-kata.

Ada yang tetap hidup karena sastra. Ada yang tetap bertahan karena kebijakan.

Dan mungkin, pada akhirnya, kami hanya dua manusia yang sama-sama sedang belajar mewaraskan hidup dengan cara berbeda.

18 Mei 2026

Jumat, 29 Desember 2023

Tarian Hujan



“Andai aku menjadi hujan, aku akan membasahi hatimu yang gersang saat ditinggal olehnya.

Andai aku menjadi hujan, aku akan sangat bahagia karena selalu kau rindukan,” kata Dika mencoba merayu Naya.


“Hahaha, makasih Dika. Kamu cukup menghibur hatiku,” tanggap Naya sambil membelalakkan matanya tak percaya Dika mengatakan hal itu.


“Aku serius, Nay. Aku ingin seperti hujan yang selalu kamu tunggu. Sejak pertemuan pertama kita dulu aku sudah suka sama kamu. Aku sayang sama kamu,” jelas Dika mengungkapkan perasaannya.


Naya terdiam. Dia memandang lekat-lekat sosok tampan yang duduk di hadapannya. Saat perasaannya sedih seperti sekarang ini Dika selalu menjadi orang pertama yang mengerti dirinya. Sejak masa orientasi siswa baru Naya dan Dika mulai dekat. Naya selalu merasa beruntung bisa bersahabat dengan Dika. Dika selalu tahu apa yang dia rasakan.


“Kita sahabat, Di,” balas Naya. 


Dika bergeming. Naya pelan-pelan berdiri meninggalkan kantin. Dika  masih duduk menghadapi segelas es teh manis kesukaannya.


“Naya,” gumam Dika seolah baru tersadar  lalu menyesap minumannya sampai tandas dan bergegas menyusul Naya.


Naya sudah sampai di tempat parkir sekolah. Dika tiba di sana tepat saat Naya sudah melajukan sepeda motor automatik kesayangannya.


“Naya! Tunggu!” seru Dika mengejar Naya.


“Sampai ketemu lagi, Di,” jawab Naya sambil melambaikan tangan kirinya dan berlalu dari jangkauan Dika.


Dika menghentikan pengejarannya. Dia tahu Naya tidak suka didesak. Ingin sekali rasanya mengikuti Naya pulang sampai rumahnya. Dika sangat tahu bagaimana Naya jika dalam kondisi seperti ini. Terbesit rasa sesal telah mengungkapkan perasaannya tadi pada Naya. Nasi sudah menjadi bubur. Dika gontai mendekati motor jadulnya lalu membawa perasaannya pulang.


Selama perjalanan pulang, Naya berusaha menepis segala kegundahan hatinya. Baru saja dia patah hati ditinggal begitu saja oleh Anash, kini masalah baru muncul. Naya tidak menyangka Dika akan senekat itu. Dika bukan bucin. Dia juga bukan perayu ulung. Dika itu orang yang pasti. Dika tak pernah menggunakan kata-kata bersayap seperti dirinya. Saat Dika berargumen, dia sudah menyiapkan segudang fakta sebagai alasan pendukungnya. Tapi, benarkah yang dia katakan tadi? Mungkin Dika bercanda, pikirnya. 

***


“Nay, ada Dika,” kata Bunda Sarah  setelah mengetuk pintu kamar Naya. 


“Hai, Di,” sapa Naya menghampiri Dika. 


Dika sudah sering bertandang ke rumah Naya. Teras rumah ini menjadi tempat favorit mereka. Kadang-kadang Bunda Sarah ikut mengobrol bersama mereka. Dika sudah menganggap Bunda Sarah sebagai ibunya sendiri. 


“Aku punya buku baru. Pasti kamu belum baca,” sahut Dika langsung menyodorkan sebuah buku yang sudah tersampul plastik.


“Wow, Nikah Tanpa Hati! Kok kamu tahu aku ingin baca ini?” seru Naya kegirangan.


“Dika, gitu, loh,” jawab Dika membanggakan diri.


“Yey. Makasih, Dika. Kamu baik banget,” balas Naya. 


“Sama-sama, Nay.  Jadi, sekarang kita udah baikan?” tanya Dika pelan menatap lekat bola mata hitam Naya.


“Memangnya kita berantem?” tanya balik Naya.


“Enggak sih. Maafin aku ya, aku janji enggak akan membahas itu lagi,” jawab Dika meyakinkan.


“Iya, sudah. Kamu mau minum apa, Di?”


“Seperti biasa,” jawab Dika sambil tertawa kecil.


Naya menjentikkan jarinya dan masuk hendak membuatkan Dika es teh manis kesukaannya. Naya lega. Bukan hal mudah menyimpan perasaan tak nyaman dalam hatinya selama dua malam. Setelah pertemuan terakhirnya di sekolah, Naya selalu memikirkan Dika. Terbesit sesal dalam benak Naya. Bagi Naya, Dika memang sudah seperti hujan yang selalu dia rindukan kehadirannya. 


Mendung yang sejak Minggu pagi menggelayut akhirnya buncah. Perlahan hujan turun. Rinainya selalu membinarkan pemujanya. Dika menarik tangan Naya ke tengah halaman.  Tawa pun pecah. Kini, Naya tak sendirian menikmati hujan.

Sumedang, 03062020

#Cerpen Tarian Hujan sudah diterbitkan dalam buku Kumpulan Cerpen Diari Hati Kanaya karya Neng Yayas (2022)



 

Minggu, 11 Juni 2023

Orok Mahal

 



Orok Mahal*)

Carpon Neng Yayas Ismayati


Tuur ngadegdeg, leungeun ngeleper, kesang badag kesang lembut ngucur tina ubun-ubun. Test pack dina ramo ngilu ngageter. Kuring teu nyangka. Mang taun-taun nungguan anugerah ieu teh. 

”Kumaha, Neng?” sora salaki dina tungtung henpon sarua ngageter nungguan jawaban kuring.

“Garis dua, Kang,” jawab kuring singket.

“Alhamdulillah, Ya Alloh ...,” kadenge tarik sora salaki ngucapkeun sukur. Kuring teu wasa neruskeun sambungan telepon. Nyegruk nyuuh sujud sukur ka Alloh SWT.

Lain beja lain bohong, kuring ngalaman sagala rupa cocoba ngeunaan kahayang boga budak teh. Ti mimiti nyanghareupan pananya nu nanyakeun geus sabaraha taun rarabi, geus boga budak sabara hiji, geus dipariksa ka dokter acan, geus nyobaan terapi jeruk nipis, terapi lauk, terapi itu ieu ... nepi ka omongan sindir sampir geus wareg pisan. Ah cindekna mah geus lieur ku pananya-pananya eta. Da lain euweuh usaha atuh kuring jeung salaki oge. Rarasaan mah sagala ikhtiar nu dirasa asup akal geus dilaksanakeun. Dokter nyatakeun hasil pamariksaan yen kuring jeung salaki euweuh masalah dina organ reproduksi masing-masing. Kuring jeung salaki tinggal sabarna, cenah. Nya da dihayang-hayang sakumaha oge meureun moal kaalaman ari Nu Kawasa can mere kapercayaan mah, kitu we kayakinan kuring jeung salaki teh.

Nepi ka ampir taun ka sabelas kuring rarabi, salaki boga proyek pagawean di luar kota anu maksa kuring jeung manehna pajauh samentara waktu. Dina mangsa ieu geuning anugerah teh datang. Kuring hamil. Asa kagunturan madu kaurugan menyan bodas. Bagjana kabina-bina.

Kuring teu sabar hayang geura mastikeun kahamilan ku dokter. Sapanjang poe di sakola ngajar dua kelas, hate mah morejengga. Kahayang mah geura bebeja ka sobat dalit kuring, tapi kuring hayang pasti heula. Akhirna jam ngajar beres. Saanggeus beres ngabsen pulang, ngadius kanu motor kageugeut kuring ngajugjug tempat praktek bidan senior nu lumayan deukeut ti imah jeung sakola kuring.

“Punten, Bu, ningali yuswa ibu anu tos lebet kana kriteria resiko tinggi kanggo nembean ngalahirkeun, saena mangga teraskeun pamariosan ka dokter spesialis kandungan wae,” sanggem Bu Bidan Ida ngagetkeun kuring.

Deg. Ratug jajantung. Ngadadak beungeut asa panas, ceuli asa ngajelenging. Naha enya kitu? 

“Oh, kitu, Bu Bidan, tapi janin abdi teu sawios-wios?” karek kuring bisa nanya.

“Teu sawios, mung kanggo mastikeun kedah  di USG teras dipantau ku dokter spesialis, hapunten pisan. Ieu teh orok mahal, Bu” ceuk Bu Bidan.

“Maksadna?” tanya kuring teu ngarti.

“Muhun, Bu, aya istilah orok mahal pami kajantenan sapertos ibu. Kehamilan pertama  ibu hamil tos langkung ti tilu puluh lima taun janten momen mahal, tah orokna katelah orok mahal,” Bu Bidan ngajelaskeun bari imut.

Aya gurat sedih na hate, tapi kuring yakin, Alloh mere kabagjaan ka kuring, jadi kuring kudu ikhtiar ngajaga kapercaan eta. Teu miceun waktu kuring tuluy ngajugjug ka tempat praktek dokter spesialis nu buka sore. Alhamdulillah teu pati loba pasen. Kuring tuluy dipariksa.

“Wilujeng, Bu, janin Ibu yuswana tos lima minggu,” saur Bu Dokter Sri bari imut.

“Alhamdulillah, Bu Dokter, mung kumaha abdi ngajagina Bu? Yuswa tos teu anom deui,” ceuk kuring bari dareuda.

“Teu kedah salempang, nu yuswana saluhureun ibu seueur nu salamet ngalahirkeun putra kahiji. Jagi barang tuang, aktipitas, sareng leueut vitaminna kade hilap. Salajengna diparios rutin sasasih sakali. Insyaalloh sehat salamet sareng lancar dugi ka ngalahirkeun,” jawab Bu Dokter Sri panjang lebar.

“Aamiin,” jawab kuring gede hate.

“Tapi, Bu, saurna seueur resiko kana kahamilan abdi teh,” kuring keukeuh hariwang.

“Pami resiko mah aya wae Bu, dina tiap kahamilan oge. Insyaalloh teu kedah seueur emutan,” saur Bu Dokter Sri leuleuy.

Ti harita kuring sumanget nyandang kahamilan ieu. Sobat-sobat dalit kuring sarumanget ngajagaan kaperluan kuring sabab adang-kadang lamun keur kapikiran masalah resiko kahamilan, kuring curhat ka maranehna. Ditambah  kuring jauh ti salaki jeung indung bapa, mun keur nyorangan sok ngarasa  kasepian. 

“Duh, Bu Naya, alhamdulillah nya, ahirna hamil oge. Jarang-jarang nu tos umuran jiga Bu Naya tiasa hamil,” ceuk Bu Tati hiji mangsa.

“Alhamdulillah, Bu, neda piduana wae,” jawab kuring bari nahan hate nu rada mentegeg.

“Nya, kade we, dijaga, sing ati-ati. Ulah sagala kabitaan abongkena keur nyiram,” tuluyna cenah.

“Muhun, Bu,” bari pamitan ngaleos ka beh masjid tukangeun ruang guru.

Kuring sujud curhat ka Nu Kawasa. Neda dipaparin kasehatan, kasalametan, jeung kalancaran kahamilan kuring jeung Si Utun. Kuring ngarasa teu daya teu upaya. Anging Alloh SWT nu nangtoskeun sagalana.

“Atos, Neng Naya, ulah diemutan cariosan Bu Tati tadi, sing yakin moal aya nanaon ka Teteh sareng Si Dedena,” ceuk Bu Uki nu geus kuring anggap lanceuk sorangan.

“Muhun, Teh, hatur nuhun. Teu sawios sih, mung kadang sok hariwang. Mana pun lanceuk saminggon sakali kadieuna, sok asa sararedih we,” ceuk kuring bari nahan cipanon nu geus ngeyembeng.

“Nya, ayeuna mah kantun sabarna. Sing kuat, da Alloh oge moal sambarangan masihan ujian lamun urang teu wasa ngalamannana,” karasa pisan kanyaah Bu Uki ka kuring teh nu matak kuring geus biasa nyebut teteh ka anjeunna.

“Muhun, Teteh, hatur nuhun pisan,” ceuk kuring bari ngarangkul Bu Uki.

Teu karasa kahamilan kuring geus nincak ka dalapan bulan. Kuring geus teu wasa mawa motor sorangan. Sabenernamah tibulan ka genep oge geus dicaram ku salaki jeung nu lain, tapi da kumaha atuh. Kuring resep momotoran, meureun bawaan orok, kitu kuring ngabela diri. Cindekna kuring ngadak-ngadak resep jalan-jalan. Proyek salaki geus beres di luar kota, tapi ayeuna rek kontrak deui di kota kalahiran kuring jeung salaki. Kabeneran atuh. Kuring oge geus lila boga rencana hayang mutasi ka kota kalahiran teh. Komo indung bapa jeung mertua kuring mah satuju pisan. 

Ti mimiti awal taun, kuring geus ngajukeun mutasi. Salengkah-salengkah kuring ngajalankeun prosedur mutasi eta nu lumayan geuning persaratanna teh. Tapi alhamdulillah geuning digampilkeun geus puguh nu ngabantuan mah loba. Meureun ieu nu disebut rejeki Si Utun teh.

Pas bulan ka dalapan ieu, kuring ngajukeun cuti rek ngadon ngalahirkeun di imah indung jeung bapa di kampung. Bari ngadagoan proses mutasi, pangajuan cuti ditedunan. Kuring nungguan waktuna ngalahirkeun di kota kalahiran nu matak waas.

Di kota ieu kuring mariksakeun kandungan ka Dokter Vivin, dokter spesialis kandungan nu geulis camperenik jeung resep ngobrol lamun konsultasi teh. Saur Mamah, indung kuring, Dokter Vivin teh keur viral, loba nu mariksakeun kakandungan jeung ngalahirkeun di klinikna. Alhamdulillah, sakali deui kuring ngarasa Alloh nyaah pisan ka kuring.

Tanggal tilu welas kuring nampa surat keputusan ti dinas pendidikan, kuring jadi mutasi. Hiji deui kabagjaan ngadatangan kuring jeung kulawarga. Kuring langsung mere laporan ka sakola asal kuring jeung lapor diri ka sakola anyar. Hadiah deui jang Si Utun.

Tanggal genep welas bada subuh, kuring ngarasa mules. Lila-lila beuki sering. Bada lohor kuring jeung salaki ngajugjug ka klinik Dokter Vivin. Bidan jaga langsung mariksa kuring. Geuning karek pembukaan hiji. Kuring disarankeun balik heula. Lamun mulesna beuki sering jeung tarik, kudu buru-buru datang deui. Kuring kudu loba jalan-jalan jeung posisi sujud, pesen bidan jaga teh. 

Balik deui ka imah kuring geus teu puguh cicing. Pagawean leuleumpangan ti teras ka tengah imah, ti tengah imah ka kamar, bari nempoan jam. Cenah mulesna kudu diitung per menitna. Ashar geus kasorang, mulesna asa beuki tarik. Ayeuna kitu rek ngalahirkeun teh, pikir kuring, sing lancar, nya, Tun.

Mamah geus hariwang pisan nempo kuring beuki rumahuh ngarasakeun mules. Bada maghrib, Kang Anash, salaki kuring, geus siaga tukangeun setir. Mawa kuring, Mamah, jeung Apa ka klinik bersalin Dokter Vivin. Moal lila deui Si Utun teh bakal brol ka alam dunya.

Di klinik, kuring kudu sabar nungguan nepi ka pembukaan cukup jang ngalahirkeun. Mamah ngusapan tonggong bari nyabarkeun hate kuring. Kuring nyegruk kana pangkuan Mamah menta ngahampura jeung karidhoanana. Mamah ngarangkul kuring mere kakuatan.

Jam sabelas kuring dibawa ka ruangan bersalin sabab pembukaan geus cukup. Kang Anash maturan bari teu lepas nyekelan ramo kuring. 

“Neng kuat nya, sakedap deui Si Utun lahir, pan Eneng tos nganti-nganti lami pisan, kuat nya,” ceuk Kang Anash bari nyium ubun-ubun.

“Alhamdulillah, wah Si Kasep teh hoyong tanggal cantik jigana mah, Bu, hehehe,” ceuk Dokter Vivin bari seuri pas Si Utun brol terus ngoceak jenger.

“Alhamdulillah,” teu sirikna balapan kuring jeung Kang Anash ngucapkeun sukur.

Alhamdulillah Ya Alloh, orok mahal kuring lahir  tanggal tujuh belas Juli dua rebu tujuh belas, Anjeun tos maparin rejeki anu teu kaukur. Kabagjaan anu sampurna.

*

Sumedang, 10 Februari 2020

*) Dibukukan dalam antologi carpon Gogoda, 2020