Sabtu, 23 Mei 2026

Perempuan yang Diam di Pojok Pentagon

 



Langit Sumedang baru saja selesai diguyur hujan ketika aku membuka pesan itu.

Satu tulisan panjang dari seseorang yang dulu hanya kukenal sebagai lelaki paling berisik di lantai tiga Pentagon. Lelaki yang suaranya selalu lebih dulu terdengar daripada langkah kakinya. Ia membaca puisi di tangga. Berdebat soal sastra di koridor. Menulis esai di koran-koran kampus dan daerah. Sedangkan aku?

Aku hanya perempuan yang duduk di pojok ruangan.

Diam.

Mencatat kata-kata yang bahkan tak cukup berani kutunjukkan kepada dunia.

Aku membaca tulisannya perlahan sambil memegang cangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Sesekali tersenyum kecil. Sesekali dadaku terasa sesak.

“Perempuan yang Diam di Pojok Pentagon.”

Aku tak tahu ternyata selama itu ia mengingatku.

Malam itu sekolah baru benar-benar sepi pukul setengah sembilan.

Lampu ruang kepala sekolah masih menyala ketika Pak Dedi, penjaga sekolah, mengetuk pintu.

“Bu, belum pulang?”

“Sebentar lagi, Pak.”

“Dari tadi ngetik terus. Jangan lupa makan.”

Aku tertawa kecil. “Kalau saya lupa makan, nanti kopi yang disalahkan.”

Pak Dedi ikut tertawa lalu pergi meninggalkan lorong yang mulai dingin.

Aku kembali menatap layar laptop.

Tumpukan laporan BOS. Surat dari dinas. Komplain orang tua murid. Jadwal guru yang bentrok. Anak-anak yang bertengkar. Proposal kegiatan literasi yang belum selesai.

Kadang aku merasa kepalaku penuh suara.

Dan menulis adalah satu-satunya tempat paling sunyi yang kupunya.

Aku membuka folder lama bernama Pentagon.

Di sana masih tersimpan cerpen-cerpen masa kuliah. File kusam dengan judul aneh-aneh. Tentang hujan. Tentang perempuan yang takut bicara. Tentang seseorang yang terlalu percaya diri membaca puisinya di depan banyak orang.

Aku tersenyum lagi.

“Masih saja berisik rupanya,” gumamku pelan.

Ponselku berbunyi.

Satu pesan masuk darinya.

“Kamu benar-benar masih menulis?”

Aku mengetik jawaban, lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Aneh.

Dua puluh tiga tahun berlalu, tapi laki-laki itu masih bisa membuatku kikuk seperti mahasiswi semester dua.

Akhirnya kukirim satu kalimat pendek.

“Kalau tidak menulis, mungkin saya sudah gila.”

Centang dua. Lalu mengetik…

“Saya justru hampir gila karena berhenti menulis.”

Aku terdiam cukup lama membaca balasan itu.

Di luar, hujan turun lagi.

Aku jadi mengingat Pentagon.

Lantai tiga yang pengap. Bau buku dan asap rokok. Suara mesin tik tua. Orang-orang yang merasa akan mengubah dunia lewat sastra.

Ia selalu ada di tengah keramaian itu.

Sementara aku memilih sudut.

Bukan karena sombong. Aku hanya takut suaraku tidak penting.

Suatu sore pernah kulihat ia membacakan puisi di depan teman-temannya. Semua tertawa dan bertepuk tangan.

Sedangkan aku menyembunyikan cerpen di balik map biru.

“Kenapa nggak dikirim?” tanya Nina, teman kelasku waktu itu.

Aku mengangkat bahu. “Takut jelek.”

“Kalau jelek ya diperbaiki.”

“Tapi kalau ditertawakan?”

Nina terkekeh. “Semua penulis pernah ditertawakan.”

Aku tidak jadi mengirimkannya.

Dan lelaki itu mungkin tak pernah tahu, beberapa cerpennya justru diam-diam kusimpan sebagai keberanian kecil agar aku tetap mau menulis.

“Bu, anak-anak OSIS sudah datang.”

Suara wakasek membuyarkan lamunanku.

Aku segera menutup laptop.

Hari itu sekolah sedang menyiapkan festival literasi. Aula penuh poster. Anak-anak sibuk latihan baca puisi dan musikalisasi.

Di tengah keramaian, seorang guru mendekat sambil mengeluh pelan.

“Bu, jujur saya capek. Administrasi makin banyak. Kadang saya lupa kenapa dulu jadi guru.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kalimat itu terasa begitu akrab.

Dulu mungkin itu juga yang terjadi padanya.

Lelaki yang sekarang menulis regulasi sampai larut malam demi ribuan guru, tapi perlahan kehilangan dirinya sendiri.

Aku tersenyum tipis.

“Pak,” kataku pelan, “jangan biarkan pekerjaan mengambil semua suara dalam kepala kita.”

Beliau mengernyit.

“Maksudnya?”

“Sisakan sedikit ruang buat diri sendiri tetap hidup.”

Guru itu diam. Lalu mengangguk kecil.

Dan entah kenapa, saat mengatakan itu, aku seperti sedang berbicara kepada seseorang yang sangat jauh.

Malamnya aku membalas tulisannya lebih panjang.

“Kita mungkin memilih jalan berbeda. Saya mewaraskan diri lewat tulisan. Abang mewaraskan banyak orang lewat kebijakan. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Tidak semua orang kuat menanggung ribuan nasib di meja kerjanya setiap hari.”

Tak lama ia membalas.

“Tapi saya iri. Kamu tetap menjaga perempuan di pojok Pentagon itu hidup.”

Aku memandang pesan itu lama sekali.

Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menulis dengan mata basah.

“Tidak. Perempuan itu juga pernah hampir mati. Bedanya, saya buru-buru menyelamatkannya.”

Di luar jendela, hujan reda perlahan.

Aku menyesap kopi yang mulai dingin.

Pahitnya masih sama seperti dua puluh tiga tahun lalu.

Bedanya sekarang aku tahu: tidak semua orang yang ramai benar-benar bersuara, dan tidak semua orang yang diam kehilangan kata-kata.

Ada yang tetap hidup karena sastra. Ada yang tetap bertahan karena kebijakan.

Dan mungkin, pada akhirnya, kami hanya dua manusia yang sama-sama sedang belajar mewaraskan hidup dengan cara berbeda.

18 Mei 2026