Sabtu, 11 Juli 2026

Teach You a Lesson: Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajarkan Ilmu, tetapi Menyelamatkan Martabat Manusia

 



"Pendidikan adalah mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus membentuk karakter."

 

Drama Korea Teach You a Lesson (참교육), adaptasi webtoon Get Schooled, tayang eksklusif di Netflix mulai 5 Juni 2026 dan telah menamatkan musim pertamanya dengan 10 episode. Serial ini disutradarai oleh Hong Jong-chan serta dibintangi oleh Kim Moo-yul (Na Hwa-jin), Lee Sung-min (Choi Kang-seok), Jin Ki-joo (Im Han-rim), dan Pyo Ji-hoon/P.O (Bong Geun-dae). Berlatar dunia pendidikan, drama ini mengikuti tim Educational Rights Protection Bureau (ERPB) yang turun tangan ketika sekolah gagal melindungi guru maupun murid dari berbagai bentuk kekerasan dan penyimpangan.

 Berbeda dengan drama sekolah yang berfokus pada kisah cinta remaja, Teach You a Lesson justru menyuguhkan potret pendidikan yang keras, penuh konflik, sekaligus sangat dekat dengan realitas yang dihadapi banyak sekolah saat ini. Setiap episode menghadirkan persoalan yang berbeda, tetapi saling berkaitan sebagai cermin rapuhnya karakter ketika pendidikan kehilangan ruhnya.

 Drama ini tidak hanya berbicara tentang perundungan antarmurid, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang guru dapat menjadi korban intimidasi murid, bahkan sebaliknya guru pun bisa menjadi pelaku kekerasan terhadap peserta didik. Ada murid yang sulit diatur hingga membentuk kelompok gangster, penyalahgunaan narkoba, siswa yang menjadi pengedar, kejahatan siber, tekanan orang tua yang menginginkan anaknya selalu sempurna, ambisi yang mendorong sebagian guru melakukan kecurangan, hingga murid berprestasi dari keluarga sederhana yang justru menjadi sasaran ketidakadilan.

 Episode ketujuh menjadi salah satu bagian yang paling membekas. Kisahnya mengangkat fenomena judi online yang berujung pada jeratan pinjaman online. Yang menarik, drama ini tidak hanya memperlihatkan penderitaan pelaku, tetapi juga menghadirkan sudut pandang keluarga sebagai korban sesungguhnya. Orang tua dipaksa menjual harga dirinya, memohon belas kasihan, bahkan menanggung utang yang tidak pernah mereka buat. Judol dan pinjol digambarkan bukan sekadar menghancurkan masa depan seorang remaja, melainkan juga meruntuhkan kehormatan seluruh keluarga.

 Dari episode inilah muncul kalimat yang sangat kuat:

 "Kebebasan ada jika kalian bertanggung jawab." (Teach You a Lesson, Episode 7)

 Kalimat tersebut mengingatkan bahwa kebebasan bukan berarti melakukan apa saja tanpa batas. Kebebasan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Ketika seseorang menggunakan kebebasannya tanpa kendali, ia tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri, tetapi juga melukai orang-orang yang paling mencintainya.

 Namun, semakin jauh mengikuti alur cerita, saya menyadari bahwa inti Teach You a Lesson bukan hanya tentang menghukum pelaku. Drama ini justru mengajak penonton memahami bahwa hampir semua tindakan buruk berawal dari emosi yang tidak pernah disembuhkan. Kehilangan, kemarahan, rasa dipermalukan, trauma, dan keinginan membalas dendam menjadi benih yang kemudian tumbuh menjadi kekerasan.

 Di sinilah makna pendidikan yang sesungguhnya terasa sangat relevan.

 Pendidikan bukan hanya mengajarkan rumus, teori, atau keterampilan kerja. Pendidikan adalah proses membentuk manusia agar mampu mengendalikan dirinya ketika marah, tetap jujur ketika memiliki kesempatan berbuat curang, tetap rendah hati ketika berhasil, serta tetap memiliki empati ketika berhadapan dengan orang yang lemah.

 Sekolah yang megah memang membanggakan. Gedung yang modern memang penting. Fasilitas yang lengkap tentu diperlukan. Akan tetapi, semuanya akan kehilangan makna apabila tidak berhasil melahirkan manusia yang bermartabat.

 Karena sesungguhnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari berapa banyak siswa diterima di perguruan tinggi atau bekerja di perusahaan besar. Keberhasilan pendidikan adalah ketika lulusan mampu menjadi manusia yang tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak merendahkan orang lain, tidak terjerumus dalam kejahatan, serta berani bertanggung jawab atas setiap pilihannya.

 Sebagai seorang pendidik dan pemimpin pembelajaran, saya merasa drama ini menghadirkan refleksi yang sangat kuat. Tidak semua persoalan siswa dapat diselesaikan dengan hukuman. Tidak semua kenakalan lahir dari niat jahat. Kadang, yang mereka butuhkan adalah orang dewasa yang mau hadir, mendengar, memahami, sekaligus berani menegakkan batas dengan kasih sayang.

 Kelebihan terbesar Teach You a Lesson adalah keberaniannya mengangkat isu-isu pendidikan yang sering dianggap tabu. Ceritanya berani, relevan, emosional, dan membuka ruang diskusi mengenai hak guru, perlindungan siswa, peran keluarga, hingga pentingnya pendidikan karakter. Akting para pemain juga sangat kuat sehingga setiap konflik terasa hidup dan menyentuh.

 Meski demikian, drama ini juga memiliki kekurangan. Beberapa penyelesaian konflik terasa sangat dramatis dan penuh aksi sehingga tidak selalu realistis untuk diterapkan dalam dunia pendidikan nyata. Ada adegan kekerasan yang cukup intens sehingga kurang sesuai bagi penonton usia muda tanpa pendampingan orang dewasa.

 Karena itu, menurut saya drama ini sangat layak ditonton oleh guru, kepala sekolah, orang tua, mahasiswa kependidikan, pembuat kebijakan pendidikan, maupun masyarakat umum yang ingin memahami kompleksitas persoalan sekolah masa kini. Namun, yang perlu diambil bukanlah cara penyelesaiannya, melainkan nilai-nilai refleksi yang ditawarkan.

 Setelah menyelesaikan seluruh episode Teach You a Lesson, saya semakin yakin bahwa pendidikan bukan sekadar mempersiapkan anak menghadapi ujian, melainkan mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.

 Ilmu dapat membuat seseorang berhasil.

 Keterampilan dapat membuat seseorang berkarya.

 Tetapi karakterlah yang menentukan apakah keberhasilan itu akan membawa manfaat atau justru kehancuran.

 Maka, di tengah derasnya arus teknologi, judi online, pinjaman online, narkoba, perundungan, dan berbagai tantangan zaman, tugas guru sesungguhnya bukan hanya mengajar, melainkan menjaga agar setiap anak tetap tumbuh sebagai manusia yang bermartabat. (Sumedang, 11 Juli 2026)