Sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar, melainkan ruang tempat peserta didik membangun pengetahuan, karakter,
keterampilan, dan kesiapan untuk menghadapi kehidupan. Dalam konteks pendidikan
vokasi, proses tersebut perlu berlangsung secara lebih kontekstual karena
pembelajaran tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga
pada kemampuan membaca persoalan nyata, mengambil keputusan, menghasilkan
karya, serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Atas dasar
pemikiran tersebut, Rancangan Proyek Transformasi Kepemimpinan Sekolah di SMK
PP Negeri Sumedang diarahkan melalui gagasan “LITERASI 360° AGROHUMANIORA”
dengan slogan “Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan Karya,
dan Memuliakan Kehidupan”.
Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa sekolah telah
memiliki sejumlah praktik baik literasi, seperti HANJELI, NUBAR, SIBAREV SAMI
SABU, Festival Literasi dan Numerasi, serta LITERA. Tantangannya bukan
semata-mata menghadirkan program baru, melainkan menyatukan praktik-praktik
yang sudah tumbuh tersebut ke dalam arah perubahan yang sama sehingga literasi
tidak berjalan sebagai kegiatan yang terpisah. Transformasi yang diharapkan
adalah perubahan dari program menjadi budaya, dari instruksi menjadi
kolaborasi, dari kegiatan menjadi sistem, dan dari output menjadi dampak.
SMK PP Negeri Sumedang memiliki kekuatan yang sangat relevan
untuk mengembangkan model tersebut. Sebagai satuan pendidikan vokasi dengan
karakter bidang agribisnis dan agroteknologi, sekolah memiliki konteks yang
kaya untuk mengembangkan literasi yang berhubungan dengan pertanian, pangan,
lingkungan, teknologi, kewirausahaan, dunia kerja, dan kehidupan masyarakat.
Karena itu, literasi dalam proyek ini dimaknai secara luas: peserta didik tidak
hanya membaca teks, tetapi juga membaca data, fenomena pertanian, informasi
teknologi, peluang usaha, persoalan lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Pengetahuan yang diperoleh kemudian diolah menjadi gagasan, karya, dan solusi
yang bermakna.
Latar Belakang dan Urgensi Transformasi
SMK PP Negeri Sumedang merupakan satuan pendidikan vokasi
negeri di Kabupaten Sumedang yang memiliki karakter kuat pada bidang pertanian.
Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan budaya literasi yang
kontekstual. Sekolah telah memiliki pengalaman dan jejak praktik baik literasi
melalui berbagai kegiatan. Namun, praktik yang telah ada masih perlu diperkuat
agar tidak berhenti sebagai kumpulan kegiatan. Literasi perlu menjadi bagian
dari ekosistem belajar yang hadir dalam pembelajaran lintas mata pelajaran,
termasuk mata pelajaran kejuruan.
Kondisi tersebut melahirkan kebutuhan akan perubahan cara
pandang. Literasi tidak cukup dipahami sebagai kegiatan membaca buku atau
kegiatan tertentu pada waktu tertentu. Literasi perlu menjadi kemampuan hidup:
kemampuan menemukan informasi, memahami dan mengolahnya, menganalisis
persoalan, berkomunikasi, menghasilkan karya, merefleksikan pengalaman, dan
menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah. Bagi peserta didik SMK
pertanian, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena dunia kerja dan
kehidupan masyarakat menuntut mereka untuk mampu membaca perubahan teknologi,
memahami data produksi, melihat peluang kewirausahaan, memperhatikan
keberlanjutan lingkungan, serta memahami kebutuhan masyarakat.
Oleh sebab itu, transformasi kepemimpinan sekolah diperlukan
agar praktik baik yang sudah dimiliki sekolah dapat menjadi sistem yang
terintegrasi, terukur, terdokumentasi, direfleksikan, dan berkelanjutan. Alur
perubahan yang menjadi pijakan adalah “Membaca → Memahami → Mengolah → Menulis
→ Berkarya → Berbagi → Berdampak”. Alur ini kemudian dipadatkan ke dalam model
tujuh langkah LITERASI 360°, yaitu READ, UNDERSTAND, ANALYZE, WRITE, CREATE,
SHARE, dan IMPACT.
Slogan “Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan,
Menghasilkan Karya, dan Memuliakan Kehidupan” menjadi ruh yang mengikat seluruh
proses tersebut. Membaca lingkungan berarti membangun kepekaan terhadap teks,
data, fenomena pertanian, pangan, lingkungan, teknologi, dan kehidupan sosial.
Mengolah pengetahuan berarti memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi
secara kritis. Menghasilkan karya berarti mengubah pengetahuan menjadi produk
atau gagasan yang dapat dikomunikasikan. Sementara itu, memuliakan kehidupan
berarti memastikan pengetahuan dan karya menghadirkan manfaat bagi diri
sendiri, sesama, lingkungan, dunia kerja, pertanian, ketahanan pangan, dan
masyarakat.
Tujuan Transformasi
Tujuan umum proyek ini adalah mentransformasikan budaya
literasi SMK PP Negeri Sumedang melalui kepemimpinan transformatif yang
mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran, pendidikan karakter, kompetensi
kejuruan, kreativitas, kewirausahaan, dan kehidupan sekolah sehingga terbentuk
peserta didik yang literat, mandiri, dan kompetitif.
Secara khusus, transformasi diarahkan untuk membangun
kesepahaman warga sekolah bahwa literasi merupakan tanggung jawab bersama;
mengintegrasikan aktivitas literasi dalam pembelajaran lintas mata pelajaran;
mengembangkan literasi yang relevan dengan bidang pertanian dan agrohumaniora;
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca, mereview, menulis, mengolah
informasi, dan menghasilkan karya; membangun portofolio karya literasi peserta
didik; membangun forum refleksi guru berbasis data dan pemecahan masalah; serta
mendokumentasikan praktik baik agar dapat menjadi model budaya literasi yang
berkelanjutan.
Sasaran proyek meliputi peserta didik, guru, wali kelas, tim
literasi dan perpustakaan, tenaga kependidikan, pimpinan sekolah, komunitas
belajar, orang tua atau komite, serta mitra yang relevan. Dengan sasaran yang
luas tersebut, literasi ditempatkan sebagai tanggung jawab kolektif, bukan
tugas satu orang atau satu tim saja.
Kepemimpinan Transformasional sebagai Penggerak Perubahan
Dalam proyek ini, kepala sekolah ditempatkan sebagai change
leader. Peran kepala sekolah bukan hanya memberikan instruksi, tetapi menjadi
pengarah perubahan, teladan, penggerak kolaborasi, sekaligus pengguna data
untuk perbaikan. Kepemimpinan pembelajaran diwujudkan dengan memastikan literasi
menjadi bagian dari proses belajar lintas mata pelajaran, termasuk mata
pelajaran kejuruan.
Pengambilan keputusan dan pengelolaan perubahan menggunakan
problem-solving loop sederhana, yaitu mengidentifikasi kondisi, mendengarkan
warga sekolah, merancang solusi bersama, melakukan uji terbatas, mengukur
hasil, melakukan refleksi, memperbaiki, kemudian memperluas praktik. Pendekatan
ini menempatkan perubahan sebagai proses belajar organisasi. Data tidak
digunakan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk memahami kondisi, menentukan
prioritas, melakukan coaching, dan memperbaiki program.
Kepemimpinan transformasional juga menuntut adanya perubahan
budaya organisasi. Praktik literasi yang sebelumnya mungkin dipersepsikan
sebagai kegiatan tambahan diarahkan menjadi bagian dari sistem sekolah.
Kolaborasi diperkuat melalui komunitas belajar dan forum refleksi guru.
Dokumentasi dan portofolio digunakan sebagai jejak perkembangan. Dengan
demikian, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi
dari perubahan kebiasaan, kualitas proses pembelajaran, kualitas karya, dan
dampak yang dihasilkan.
Inovasi LITERASI 360° AGROHUMANIORA
LITERASI 360° AGROHUMANIORA merupakan model transformasi
budaya sekolah yang mengintegrasikan praktik baik literasi yang telah dimiliki
sekolah dengan pembelajaran dan konteks kejuruan pertanian. Model ini tidak
menghapus program yang sudah ada, tetapi memberikan arah dan keterhubungan baru
sehingga setiap program memiliki peran dalam satu ekosistem.
HANJELI berfungsi menumbuhkan kebiasaan dan jejak membaca.
NUBAR mendorong produksi karya bersama guru dan peserta didik. SIBAREV SAMI
SABU membiasakan peserta didik membaca, memahami, mereview, dan
mengomunikasikan gagasan. Festival Literasi dan Numerasi menyediakan ruang apresiasi,
publikasi, dan diseminasi karya. LITERA memperkuat ekosistem dan dokumentasi
literasi. Sementara itu, integrasi lintas mata pelajaran memastikan literasi
tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan di luar pembelajaran.
Keunikan model ini terletak pada konteks agrohumaniora.
Literasi dihubungkan dengan pertanian, pangan, lingkungan, teknologi,
kewirausahaan, dan masyarakat. Peserta didik dapat membaca lingkungan sekitar,
mengumpulkan informasi, menganalisis persoalan, kemudian mengubahnya menjadi tulisan,
infografis, video, podcast, produk, atau solusi. Karya tersebut selanjutnya
dibagikan dan direfleksikan untuk melihat manfaat serta dampaknya.
Integrasi Pendidikan Karakter
LITERASI 360° AGROHUMANIORA tidak diposisikan hanya sebagai
program literasi, tetapi sebagai strategi kepemimpinan untuk membangun karakter
melalui pengalaman belajar yang kontekstual. Pendidikan karakter diintegrasikan
ke dalam seluruh alur: Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan
Karya, dan Memuliakan Kehidupan. Dengan demikian, karakter tidak diajarkan
sebagai materi yang terpisah, melainkan dilatihkan melalui aktivitas nyata.
Pada tahap membaca lingkungan, peserta didik dilatih menjadi
pribadi yang peduli, peka, dan memiliki rasa ingin tahu melalui kegiatan
mengamati persoalan pertanian, pangan, lingkungan, dan kehidupan sosial. Pada
tahap mengolah pengetahuan, peserta didik dilatih bernalar kritis, jujur,
bertanggung jawab, dan disiplin ketika memilah sumber, membaca data,
berdiskusi, menganalisis, serta mengambil keputusan.
Pada tahap menghasilkan karya, karakter kreatif, mandiri,
tekun, kolaboratif, dan komunikatif dikembangkan melalui kegiatan menghasilkan
tulisan, infografis, video, produk, atau solusi serta mempresentasikannya. Pada
tahap memuliakan kehidupan, peserta didik diarahkan untuk memiliki kepedulian,
akhlak, semangat gotong royong, dan orientasi kebermanfaatan dengan menggunakan
pengetahuan dan karya untuk memberi manfaat bagi manusia, lingkungan, dan
ketahanan pangan.
Dengan pendekatan tersebut, literasi menjadi jalan untuk
menghidupkan karakter. Peserta didik tidak hanya menjadi pembaca yang baik,
tetapi juga pemikir, pencipta, komunikator, kolaborator, dan pribadi yang mampu
melihat hubungan antara pengetahuan dengan kehidupan. Muara akhirnya adalah kebermanfaatan:
setiap pengetahuan dan karya diupayakan memiliki nilai bagi manusia,
lingkungan, pertanian, pangan, dan kehidupan bersama.
Integrasi dalam Program Kokurikuler
Kokurikuler diposisikan sebagai laboratorium pengalaman yang
menghubungkan pembelajaran, karakter, literasi, kompetensi kejuruan, dan
kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat. Melalui kokurikuler, peserta
didik memperoleh pengalaman nyata yang kemudian diproses melalui alur literasi.
Proses dimulai dari pengalaman nyata sesuai konteks sekolah.
Peserta didik kemudian membaca lingkungan, instruksi, data, fenomena, informasi
teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Setelah itu mereka mengolah informasi
melalui diskusi, analisis, pemecahan masalah, perencanaan, dan pengambilan
keputusan. Tahap berikutnya adalah berkarya dalam bentuk produk, laporan,
artikel, poster, video, infografis, podcast, atau solusi. Peserta didik
kemudian melakukan refleksi terhadap pengetahuan, karakter yang dilatih,
tantangan, dan pembelajaran. Tahap terakhir adalah berdampak, yaitu ketika
karya atau aksi memberikan manfaat bagi sekolah, lingkungan, ketahanan pangan,
atau kehidupan bersama.
Implementasi dapat dilakukan melalui kegiatan HANJELI,
SIBAREV SAMI SABU, NUBAR, LITERA, serta proyek lingkungan, pangan, pertanian,
kewirausahaan, kampanye anti-plastik, zero waste, dan kegiatan lain yang
memberi pengalaman nyata. Jejak kegiatan tersebut didokumentasikan melalui
jurnal pengalaman, catatan baca atau review, LKPD, rancangan aksi, portofolio
karya, jurnal refleksi, umpan balik, cerita perubahan, pameran, dan tindak
lanjut.
Data kokurikuler menjadi bagian dari monitoring dan
evaluasi. Yang dilihat bukan hanya kehadiran atau jumlah kegiatan, tetapi
partisipasi peserta didik, kualitas proses, portofolio karya, refleksi,
perkembangan karakter, dan dampak. Data digunakan sebagai bahan coaching,
refleksi guru, perbaikan program, dan pengambilan keputusan kepala sekolah.
Strategi Implementasi
Pelaksanaan proyek dirancang dalam tiga fase selama enam
bulan. Fase pertama adalah persiapan pada bulan pertama. Fokusnya meliputi
penyusunan baseline, pemetaan praktik baik, analisis kebutuhan, pembentukan
atau peneguhan tim, penyusunan indikator, sosialisasi, dan penyusunan
perangkat. Tahap ini penting karena target akhir harus disesuaikan dengan
kondisi riil sekolah.
Fase kedua adalah implementasi pada bulan kedua sampai
keempat. Pada fase ini dilakukan penguatan HANJELI, NUBAR, SIBAREV SAMI SABU,
dan LITERA; integrasi literasi dalam pembelajaran; pengembangan portofolio
karya; penguatan literasi agrohumaniora; serta pelaksanaan forum refleksi guru.
Kegiatan berjalan secara kolaboratif dengan memanfaatkan sumber daya yang telah
tersedia.
Fase ketiga adalah refleksi dan pemantapan pada bulan kelima
sampai keenam. Kegiatan meliputi pengukuran akhir, analisis portofolio, survei,
forum refleksi, Festival Literasi 360°, dokumentasi praktik baik, penyusunan
SOP sederhana, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Dengan tahapan tersebut,
proyek tidak berhenti pada pelaksanaan, tetapi bergerak menuju pembakuan dan
keberlanjutan.
Mitra yang dilibatkan meliputi kepala sekolah atau pimpinan,
guru, wali kelas, pustakawan atau tim literasi, peserta didik, komunitas
belajar, komite atau orang tua, serta mitra pertanian, dunia kerja, atau
komunitas literasi sesuai kebutuhan. Prinsip sumber daya yang digunakan adalah
memaksimalkan aset yang sudah tersedia, sementara tambahan anggaran hanya
diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar diperlukan.
Monitoring, Evaluasi, dan Penggunaan Data
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan prinsip
before-after: baseline, implementasi, pengukuran akhir, refleksi, dan
perbaikan. Indikator yang dipantau meliputi kebiasaan membaca dan mereview,
partisipasi siswa dan guru, integrasi literasi dalam pembelajaran, jumlah dan
mutu karya, kemampuan memahami dan mengolah informasi, persepsi budaya
literasi, forum refleksi dan tindak lanjut, serta keberlanjutan program dalam
agenda sekolah.
Instrumen yang digunakan mencakup jurnal literasi mingguan,
rekap partisipasi bulanan, observasi atau cek perangkat ajar, rubrik karya,
tugas atau rubrik pemahaman, survei awal-akhir, notulen forum refleksi, dan
dokumen program sekolah. Data kualitatif berupa cerita perubahan, dokumentasi,
dan umpan balik digunakan untuk melengkapi data kuantitatif.
Survei awal dan akhir menggunakan instrumen yang sama agar
perubahan dapat dibandingkan. Aspek yang digali mencakup kebiasaan membaca,
kemampuan menemukan dan memilah informasi, kemampuan memeriksa sumber digital,
kemampuan menyampaikan kembali isi bacaan, kemampuan menulis gagasan,
ketertarikan pada topik pertanian dan agrohumaniora, pengalaman menghasilkan
karya, kepercayaan diri dalam mempresentasikan karya, relevansi literasi dengan
pembelajaran kejuruan, ruang yang diberikan sekolah, dan dukungan guru.
Observasi guru diarahkan pada keberadaan aktivitas membaca
atau mengakses informasi yang relevan, kemampuan peserta didik memahami dan
menganalisis informasi, keberadaan tulisan atau karya, keterkaitan literasi
dengan materi atau kejuruan, serta adanya refleksi dan umpan balik. Rubrik
karya menilai pemahaman isi, pengolahan informasi, kualitas gagasan, konteks
agrohumaniora, bahasa dan komunikasi, kreativitas, serta dampak atau manfaat.
Prinsip penting dalam monitoring adalah bahwa data bukan
alat untuk menghukum guru. Data merupakan informasi perkembangan yang digunakan
untuk coaching, refleksi, perbaikan pembelajaran, dan pengambilan keputusan.
Dengan cara tersebut, monitoring menjadi bagian dari budaya belajar organisasi.
Indikator Keberhasilan
Keberhasilan proyek dirancang menggunakan prinsip SMART dan
tetap harus divalidasi berdasarkan baseline internal sekolah. Sasaran awal yang
disarankan dalam rancangan meliputi sedikitnya 70 persen guru sasaran
menerapkan aktivitas literasi pada bulan kedua sampai keempat; sedikitnya 80
persen siswa sasaran memiliki jejak atau portofolio literasi pada bulan kedua
sampai keenam; sedikitnya 70 persen karya sampel mencapai minimal kategori Baik
pada bulan ketiga sampai keenam; forum refleksi guru berlangsung satu kali
setiap bulan; persepsi budaya literasi meningkat sekurang-kurangnya 15 persen
dari baseline; dan praktik proyek masuk ke dalam program kerja sekolah melalui
sedikitnya satu dokumen atau agenda resmi pada akhir bulan keenam.
Angka-angka tersebut merupakan target awal yang disarankan,
bukan angka final. Validasi terhadap baseline internal diperlukan sebelum
proyek disahkan agar indikator benar-benar mencerminkan kondisi sekolah dan
dapat dipertanggungjawabkan.
Dampak yang Diharapkan
Bagi peserta didik, proyek diharapkan meningkatkan kebiasaan
membaca, kemampuan memahami dan mengolah informasi, kemampuan menyampaikan
gagasan, kualitas karya, kepercayaan diri, serta relevansi literasi dengan
dunia kerja dan kehidupan. Peserta didik diharapkan mengalami perubahan dari
sekadar menerima informasi menjadi individu yang mampu membaca realitas,
mengolah pengetahuan, menciptakan karya, dan memberi dampak.
Bagi guru, proyek diharapkan meningkatkan kesadaran bahwa
literasi merupakan tanggung jawab lintas mata pelajaran, kemampuan
mengintegrasikan aktivitas literasi dalam pembelajaran, dan budaya refleksi
berbasis data. Guru tidak hanya menjadi pelaksana pembelajaran, tetapi juga
pembelajar yang terus memperbaiki praktik.
Bagi sekolah, dampak yang diharapkan adalah terbentuknya
budaya membaca, berpikir, berkarya, dan berbagi yang terdokumentasi dan
terukur. Budaya tersebut menjadi bagian dari identitas sekolah serta mendukung
visi pendidikan yang menghubungkan kompetensi, karakter, literasi, pertanian, kewirausahaan,
lingkungan, dan ketahanan pangan.
Keberlanjutan dan Potensi Replikasi
Keberlanjutan menjadi bagian penting dari transformasi.
Program diarahkan untuk masuk ke dalam program kerja sekolah dan menjadi agenda
komunitas belajar. Portofolio peserta didik dilanjutkan setiap tahun, penggerak
atau duta literasi diregenerasi, dan Festival Literasi 360° dikembangkan
menjadi agenda berkala. Praktik baik dapat didiseminasikan melalui FGD atau
seminar sesuai ketentuan BCKS.
Model ini juga memiliki potensi untuk direplikasi. Prinsip
utamanya dapat diterapkan oleh sekolah lain dengan menyesuaikan konteks. Jika
SMK PP Negeri Sumedang menggunakan konteks agrohumaniora, sekolah lain dapat
mengembangkan konteks sesuai karakter dan kekuatan masing-masing. Dengan demikian,
yang direplikasi bukan sekadar nama program, melainkan prinsip transformasi:
mengintegrasikan literasi dengan pembelajaran, karakter, konteks kehidupan,
karya, refleksi, dan dampak.
Refleksi Kepemimpinan
Transformasi sekolah pada akhirnya bukan terutama tentang
seberapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi tentang seberapa jauh program
mampu mengubah cara warga sekolah belajar, bekerja, berkolaborasi, dan memaknai
pendidikan. LITERASI 360° AGROHUMANIORA menjadi upaya untuk menyatukan praktik baik
yang telah tumbuh di SMK PP Negeri Sumedang ke dalam satu ekosistem yang
memiliki arah, indikator, dokumentasi, refleksi, dan keberlanjutan.
Kepala sekolah dalam proyek ini tidak berdiri sebagai pusat
seluruh aktivitas, tetapi sebagai penggerak yang menumbuhkan kepemilikan
bersama. Perubahan diupayakan melalui keteladanan, dialog, kolaborasi,
penggunaan data, apresiasi terhadap karya, dan pembiasaan refleksi. Dengan
demikian, transformasi kepemimpinan berjalan beriringan dengan transformasi
budaya organisasi.
Pada akhirnya, keberhasilan LITERASI 360° AGROHUMANIORA
bukan hanya ketika peserta didik mampu membaca lebih banyak atau menghasilkan
lebih banyak karya. Keberhasilan yang lebih mendalam adalah ketika mereka mampu
membaca lingkungan dengan kepekaan, mengolah pengetahuan dengan nalar kritis
dan kejujuran, menghasilkan karya dengan kreativitas dan kemandirian,
membagikannya dengan percaya diri, lalu menggunakannya untuk memberi manfaat.
Di titik inilah slogan “Membaca Lingkungan, Mengolah Pengetahuan, Menghasilkan
Karya, dan Memuliakan Kehidupan” menemukan maknanya.
Transformasi yang dituju adalah perjalanan dari program
menjadi budaya, dari kegiatan terpisah menjadi ekosistem belajar, dan dari
membaca menjadi berpikir, berkarya, merefleksi, serta berdampak. LITERASI 360°
AGROHUMANIORA dengan demikian bukan hanya rancangan sebuah program, melainkan
sebuah ikhtiar kepemimpinan untuk menghadirkan sekolah yang literat,
berkarakter, kontekstual, produktif, dan berorientasi pada kebermanfaatan bagi
manusia, lingkungan, dunia kerja, pertanian, serta ketahanan pangan.
LITERASI 360° AGROHUMANIORA merupakan gagasan transformasi
yang berangkat dari kekuatan nyata SMK PP Negeri Sumedang. Jejak literasi yang
telah dimiliki sekolah menjadi fondasi untuk membangun budaya yang lebih
terintegrasi. Melalui kepemimpinan transformatif, kolaborasi, problem-solving
loop, pendidikan karakter, kokurikuler, portofolio, monitoring, refleksi, dan
keberlanjutan, literasi diarahkan menjadi bagian dari kehidupan sekolah.
Esai ini menegaskan bahwa literasi yang bermakna bukanlah
aktivitas yang berhenti pada membaca. Literasi adalah proses untuk memahami
kehidupan, mengolah pengetahuan, menciptakan karya, membangun karakter, dan
menghadirkan dampak. Ketika literasi bertemu dengan agrohumaniora, pendidikan
vokasi memiliki ruang yang kuat untuk membentuk generasi yang bukan hanya
kompeten dalam bekerja, tetapi juga peduli, kritis, kreatif, mandiri,
kolaboratif, komunikatif, dan mampu memuliakan kehidupan.
