Tanah di lahan praktik sekolahku
pecah-pecah. Retakannya memanjang seperti urat pada telapak tangan seorang
lelaki tua. Ketika cangkul kutancapkan, yang terdengar bukan bunyi tanah basah
yang terbelah, melainkan suara keras dan kering.
Tak!
Cangkulku terpental. Aku mengusap
keringat yang mengalir dari pelipis.
“Masih keras, Lif?”
Aku menoleh. Raka berdiri beberapa
meter di belakangku sambil membawa ember kosong.
“Bukan keras lagi, Rak. Ini tanah
kayak batu.”
Raka tertawa kecil. “Ya, namanya
juga musim kemarau.”
Aku tidak menjawab. Aku kembali
memandang petak lahan yang menjadi tanggung jawab kelompok kami. Seharusnya
minggu ini kami sudah mulai menanam. Tetapi tanah terlalu kering. Air di bak penampungan
sekolah juga semakin sedikit.
Aku Alif, murid kelas XI di SMK Negeri Pertanian di kaki Gunung Tampomas
Sumedang. Aku memilih sekolah ini karena sejak kecil aku suka melihat sawah,
kebun, dan bukit-bukit yang mengelilingi kampungku yang juga berada di kaki
gunung tertinggi dan bersejarah di Kota Tahu ini. Aku pernah membayangkan
menjadi petani yang mampu mengolah tanah dengan ilmu, bukan hanya dengan
tenaga. Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa tanah sedang
menguji cita-citaku.
“Kalau begini terus, kapan kita
tanam?” keluh Raka.
Aku mengangkat bahu. Entahlah. Aku
sendiri tidak tahu.
Dari kejauhan, Gunung Tampomas
tampak membiru di balik udara yang berdebu. Gunung itu seperti biasa, diam,
kokoh, dan seolah menyimpan terlalu banyak cerita yang tidak pernah selesai
diceritakan. Aku menatapnya cukup lama. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat
Kakek.
Malamnya, aku duduk di serambi
bersama Kakek. Nenek sedang memilah sayuran di dapur. Ibu baru selesai
membereskan piring makan.
“Lif,” panggil Kakek.
“Iya, Kek?”
“Di sekolah bagaimana?”
Aku menghela napas. “Lahannya susah
diolah. Tanah kering. Air juga terbatas.”
Kakek diam. Tangannya mengusap
tongkat kayu yang selalu berada di sampingnya.
“Musim kemarau memang begitu.”
Aku mengangguk. Lalu tanpa sadar
aku bertanya, “Kek…”
“Hmm?”
“Dulu waktu Alif kecil, Kakek
pernah cerita tentang Tampomas, kan?”
Kakek menoleh. “Cerita yang mana?”
“Yang kalau salah satu sisi Gunung
Tampomas terbakar…”
Kakek tersenyum.
“Oh ….” Nenek yang sejak tadi berada
di dapur tiba-tiba ikut menyahut. “Cerita itu lagi?”
Aku tersenyum. “Alif lupa, Nek.
Makanya mau dengar lagi.”
Kakek menarik napas panjang. “Orang-orang
tua dulu sering bilang, kalau pada musim kemarau salah satu sisi Gunung
Tampomas terbakar, itu menjadi pertanda bahwa kemarau akan segera berakhir dan
hujan akan datang.”
Aku terdiam. “Benarkah, Kek?”
Kakek tertawa kecil. “Benar menurut
cerita yang Kakek dengar dari orang tua Kakek.”
“Jadi memang kalau gunung terbakar,
pasti hujan?”
Kakek menggeleng. “Nah, itu yang
jangan kamu telan mentah-mentah.”
Aku mengernyitkan dahi. “Lalu?”
“Kepercayaan masyarakat bukan
selalu soal benar atau salah. Kadang di dalam cerita lama ada cara orang zaman
dahulu membaca alam.”
Nenek ikut duduk di samping kami. “Dulu
orang belum punya banyak alat untuk melihat prakiraan cuaca seperti sekarang.”
Kakek melanjutkan, “Mereka
mengamati langit, angin, suhu, tumbuhan, hewan, air, dan gunung. Dari
pengamatan yang berulang, lahirlah cerita yang diwariskan.”
Aku memandang Tampomas yang hanya
tampak sebagai bayangan hitam di kejauhan.
“Jadi cerita tentang api itu…”
“Bisa jadi bagian dari pengetahuan
yang diwariskan,” kata Kakek.
“Bisa jadi juga kepercayaan,”
tambah Nenek.
Kakek tersenyum.
“Yang penting, jangan buru-buru mengejek
cerita orang tua. Tetapi jangan pula langsung menganggapnya sebagai hukum
alam.”
Aku tersenyum. Kalimat itu
sederhana. Namun malam itu, entah mengapa, aku menyimpannya dalam-dalam.
Hari-hari berikutnya semakin panas.
Di sekolah, kami tetap berusaha mengolah lahan. Bu Ranti, Guru Produktif,
membagi kami ke dalam beberapa kelompok.
“Anak-anak,” katanya, “kondisi
lahan seperti ini justru menjadi pembelajaran. Petani tidak hanya belajar
menanam ketika keadaan ideal. Petani harus mampu membaca keadaan.”
Pak Herman, Guru Produktif yang
lebih muda dari Bu Ranti, menambahkan, “Cari cara menghemat air. Jangan semua
masalah diselesaikan dengan menyiram sebanyak-banyaknya.”
Kami berdiskusi. Ada yang
mengusulkan mulsa. Ada yang ingin membuat penampungan air sederhana. Ada yang
mencari jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Aku ikut
mencatat. Namun dalam hati, aku masih memikirkan cerita Kakek. Tentang
Tampomas. Tentang api. Tentang hujan.
Suatu siang, ketika kami sedang
beristirahat, Guru Sejarah kami, Pak Surya, datang menghampiri. “Kalian tahu
kenapa banyak masyarakat memiliki cerita tentang gunung?”
Kami saling berpandangan. “Karena
gunung itu penting bagi kehidupan manusia,” jawabku.
Pak Surya tersenyum. “Bagus, Alif.”
Beliau kemudian bercerita bahwa
masyarakat di berbagai daerah memiliki hubungan yang kuat dengan alam. Gunung
bukan sekadar bentang alam. Ia menjadi sumber air, penanda musim, ruang hidup,
sekaligus bagian dari ingatan budaya.
“Termasuk cerita tentang Tampomas,”
katanya.
Aku langsung memperhatikan. “Pak,
apakah benar ada kepercayaan masyarakat Sumedang bahwa kebakaran di salah satu
sisi Tampomas menjadi pertanda berakhirnya kemarau?”
Pak Surya tersenyum. “Itu bagian
dari cerita tutur yang berkembang di masyarakat. Kalian boleh menuliskannya
sebagai kepercayaan atau kearifan lokal, tetapi jangan menyatakan bahwa
kebakaran gunung secara ilmiah pasti menyebabkan hujan.”
Aku mengangguk. “Lalu bagaimana
kalau kami menulisnya dalam cerpen?”
“Nah,” katanya, “justru di situlah
sastra bekerja.”
“Bagaimana, Pak?”
“Cerpen tidak harus membuktikan
apakah kepercayaan itu benar. Cerpen dapat memperlihatkan bagaimana sebuah
cerita diwariskan, dipercaya, dipertanyakan, kemudian dimaknai kembali oleh
generasi muda.”
Aku terdiam. Rasanya seperti
mendapatkan jawaban dari sesuatu yang sejak beberapa hari mengganggu pikiranku.
Sore itu, ketika kami akan pulang
sekolah, Raka tiba-tiba berteriak.
“Lif!”
Aku menoleh.
“Lihat!”
Kami berhenti.
Di kejauhan, di salah satu sisi
Gunung Tampomas, terlihat kepulan asap. Awalnya kecil. Lalu semakin jelas. Beberapa
murid mulai mengeluarkan telepon genggam.
“Gunung kebakaran!”
“Serius?”
“Lihat! Ada api!”
Jantungku berdegup lebih cepat. Aku
teringat Kakek. Kalau salah satu sisi Tampomas terbakar, kemarau akan segera
berakhir. Malamnya, aku menceritakan kejadian itu kepada Kakek. Kakek tidak
langsung menjawab. Ia justru memandangku lama.
“Jangan bergembira karena gunung
terbakar, Lif.”
Aku terdiam. “Kenapa, Kek?”
“Karena api di hutan bukan sesuatu
yang boleh kita tunggu sebagai pertanda.”
Nenek mengangguk. “Kalau benar
terjadi kebakaran, yang pertama harus dipikirkan adalah keselamatan alam dan
manusia.”
Aku menunduk.
Kakek kemudian berkata, “Kalau
nanti hujan datang, syukuri hujannya. Kalau ternyata hujan belum datang, jangan
salahkan ceritanya.”
Aku tersenyum kecil. “Berarti Kakek
tidak percaya?”
Kakek tertawa. “Kakek percaya pada
cerita sebagai warisan. Tetapi Kakek juga percaya bahwa kamu harus menggunakan
ilmu untuk memahami alam.”
Aku terdiam. Barangkali itulah yang
selama ini tidak kupahami.
Keesokan harinya, Ibu Kepala Sekolah
datang ke lahan praktik. Beliau melihat tanah yang kering, tanaman yang mulai
layu, dan bak penampungan air yang hampir kosong.
“Bagaimana kondisi kalian?”
tanyanya.
“Sulit, Bu,” jawabku.
Beliau tersenyum. “Sulit bukan
berarti berhenti.”
Beliau kemudian duduk bersama kami.
“Coba pikirkan. Apa yang bisa kita lakukan?”
Kami mulai menyampaikan pendapat. Mulsa.
Penghematan air. Pemilihan tanaman. Pengolahan tanah yang tidak berlebihan. Pemanfaatan
bahan organik.
Bu Isma mendengarkan satu per satu.
“Bagus. Sekolah ini bukan tempat untuk menunggu keadaan menjadi mudah. Sekolah
adalah tempat kalian belajar menghadapi keadaan yang tidak mudah.”
Aku menatap beliau. Kalimat itu
seperti menyalakan sesuatu dalam pikiranku. Aku tiba-tiba teringat kata-kata
Kakek. Cerita boleh diwariskan. Alam harus dipelajari.
Hari itu, kelompok kami membuat
rencana sederhana. Kami menggunakan bahan organik yang tersedia, menutup
sebagian permukaan tanah untuk menjaga kelembapan, mengatur jadwal penyiraman,
dan membuat penampungan air sederhana. Kami tidak tahu apakah hasilnya akan
berhasil. Tetapi setidaknya kami tidak lagi hanya mengeluh tentang kemarau. Kami
mulai belajar berdamai dengannya.
Beberapa hari kemudian, langit
berubah. Pagi masih panas. Siang masih menyengat. Namun menjelang sore, angin
bertiup lebih lembut. Aku berdiri di halaman sekolah dan menatap Tampomas. Awan
mulai berkumpul. Raka datang berlari.
“Lif!”
“Apa?”
“Kayaknya hujan!”
Aku tertawa. “Jangan-jangan karena
Tampomas.”
Raka ikut tertawa.
Tidak lama kemudian, setetes air
jatuh di tanganku.
Tik.
Aku menatap telapak tangan. Setetes
lagi.
Tik. Tik.
Lalu semakin banyak.
Anak-anak bersorak. Kami berlari ke
halaman. Hujan turun. Bukan hujan yang langsung deras. Tetapi cukup untuk
membuat aroma tanah yang lama kering kembali memenuhi udara.
Aku menutup mata. Aku teringat
Kakek. Aku teringat cerita masa kecilku. Aku teringat tanah di lahan praktik. Aku
juga teringat pesan Pak Surya dan Ibu
Kepala Sekolah. Aku tidak tahu apakah hujan itu datang karena pertanda dari
Tampomas. Aku tidak tahu apakah cerita Kakek benar secara ilmiah. Dan sekarang
aku tidak merasa harus mengetahui jawabannya. Sebab aku mulai memahami sesuatu
yang lebih penting. Cerita adalah cara manusia menjaga ingatan. Ilmu adalah
cara manusia memahami kehidupan.Dan keduanya tidak harus saling meniadakan.
Seminggu kemudian, lahan praktik
sekolah berubah. Tanah yang sebelumnya keras mulai lembap. Benih-benih yang
kami tanam perlahan menunjukkan kehidupan. Satu per satu tunas kecil muncul. Aku
jongkok di antara bedengan. Jari-jariku menyentuh tanah.
Dulu aku mengira menjadi murid SMK
Negeri Pertanian berarti belajar bagaimana menanam. Ternyata lebih dari itu. Aku
belajar membaca tanah. Belajar memahami air. Belajar menghormati alam. Dan
belajar mendengarkan cerita orang-orang yang hidup jauh sebelumku.
Sepulang sekolah, aku kembali duduk
bersama Kakek.
“Sudah hujan, Kek.”
Kakek tersenyum. “Syukurlah.”
“Berarti cerita Kakek benar?”
Kakek tertawa. “Menurutmu?”
Aku ikut tertawa. “Entahlah.”
“Nah, itu jawaban yang bagus.”
Aku memandang Tampomas dari
kejauhan. Gunung itu kembali tenang. Tidak ada api. Tidak ada asap. Hanya hijau
pepohonan dan kabut tipis yang menggantung di lerengnya. Aku baru sadar,
mungkin yang diwariskan Kakek kepadaku bukanlah keyakinan bahwa api di Tampomas
akan mendatangkan hujan. Yang diwariskannya adalah sebuah pesan: Dengarkan
alam. Hormati cerita leluhur. Tetapi gunakan ilmu untuk memahami keduanya.
Aku tersenyum. Besok pagi aku akan
kembali ke sekolah. Masih ada lahan yang harus diolah. Masih ada tanaman yang
harus dirawat. Masih ada pelajaran yang harus dipelajari. Dan mungkin, suatu
hari nanti, ketika aku menjadi petani atau guru atau siapa pun aku kelak, aku
akan menceritakan kisah yang sama kepada anak-anak setelahku. Bukan untuk
membuat mereka percaya begitu saja. Melainkan agar mereka tahu bahwa di tanah
Sumedang ini, pernah hidup orang-orang yang membaca tanda-tanda alam dengan
caranya sendiri. Dan bahwa setiap cerita yang diwariskan selalu menyimpan jejak
kehidupan.
Aku menatap Tampomas sekali lagi. Gunung
itu tetap diam. Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ia sedang
bercerita. Tentang tanah. Tentang hujan. Tentang manusia. Dan tentang sebuah
warisan yang tidak boleh hilang begitu saja.***
Sumedang, 9 Agustus 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar