Rabu, 21 Oktober 2026

Api di Punggung Tampomas



Tanah di lahan praktik sekolahku pecah-pecah. Retakannya memanjang seperti urat pada telapak tangan seorang lelaki tua. Ketika cangkul kutancapkan, yang terdengar bukan bunyi tanah basah yang terbelah, melainkan suara keras dan kering.

Tak!

Cangkulku terpental. Aku mengusap keringat yang mengalir dari pelipis.

“Masih keras, Lif?”

Aku menoleh. Raka berdiri beberapa meter di belakangku sambil membawa ember kosong.

“Bukan keras lagi, Rak. Ini tanah kayak batu.”

Raka tertawa kecil. “Ya, namanya juga musim kemarau.”

Aku tidak menjawab. Aku kembali memandang petak lahan yang menjadi tanggung jawab kelompok kami. Seharusnya minggu ini kami sudah mulai menanam. Tetapi tanah terlalu kering. Air di bak penampungan sekolah juga semakin sedikit.

Aku Alif, murid kelas XI di  SMK Negeri Pertanian di kaki Gunung Tampomas Sumedang. Aku memilih sekolah ini karena sejak kecil aku suka melihat sawah, kebun, dan bukit-bukit yang mengelilingi kampungku yang juga berada di kaki gunung tertinggi dan bersejarah di Kota Tahu ini. Aku pernah membayangkan menjadi petani yang mampu mengolah tanah dengan ilmu, bukan hanya dengan tenaga. Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa tanah sedang menguji cita-citaku.

“Kalau begini terus, kapan kita tanam?” keluh Raka.

Aku mengangkat bahu. Entahlah. Aku sendiri tidak tahu.

Dari kejauhan, Gunung Tampomas tampak membiru di balik udara yang berdebu. Gunung itu seperti biasa, diam, kokoh, dan seolah menyimpan terlalu banyak cerita yang tidak pernah selesai diceritakan. Aku menatapnya cukup lama. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat Kakek.

Malamnya, aku duduk di serambi bersama Kakek. Nenek sedang memilah sayuran di dapur. Ibu baru selesai membereskan piring makan.

“Lif,” panggil Kakek.

“Iya, Kek?”

“Di sekolah bagaimana?”

Aku menghela napas. “Lahannya susah diolah. Tanah kering. Air juga terbatas.”

Kakek diam. Tangannya mengusap tongkat kayu yang selalu berada di sampingnya.

“Musim kemarau memang begitu.”

Aku mengangguk. Lalu tanpa sadar aku bertanya, “Kek…”

“Hmm?”

“Dulu waktu Alif kecil, Kakek pernah cerita tentang Tampomas, kan?”

Kakek menoleh. “Cerita yang mana?”

“Yang kalau salah satu sisi Gunung Tampomas terbakar…”

Kakek tersenyum.

“Oh ….” Nenek yang sejak tadi berada di dapur tiba-tiba ikut menyahut. “Cerita itu lagi?”

Aku tersenyum. “Alif lupa, Nek. Makanya mau dengar lagi.”

Kakek menarik napas panjang. “Orang-orang tua dulu sering bilang, kalau pada musim kemarau salah satu sisi Gunung Tampomas terbakar, itu menjadi pertanda bahwa kemarau akan segera berakhir dan hujan akan datang.”

Aku terdiam. “Benarkah, Kek?”

Kakek tertawa kecil. “Benar menurut cerita yang Kakek dengar dari orang tua Kakek.”

“Jadi memang kalau gunung terbakar, pasti hujan?”

Kakek menggeleng. “Nah, itu yang jangan kamu telan mentah-mentah.”

Aku mengernyitkan dahi. “Lalu?”

“Kepercayaan masyarakat bukan selalu soal benar atau salah. Kadang di dalam cerita lama ada cara orang zaman dahulu membaca alam.”

Nenek ikut duduk di samping kami. “Dulu orang belum punya banyak alat untuk melihat prakiraan cuaca seperti sekarang.”

Kakek melanjutkan, “Mereka mengamati langit, angin, suhu, tumbuhan, hewan, air, dan gunung. Dari pengamatan yang berulang, lahirlah cerita yang diwariskan.”

Aku memandang Tampomas yang hanya tampak sebagai bayangan hitam di kejauhan.

“Jadi cerita tentang api itu…”

“Bisa jadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan,” kata Kakek.

“Bisa jadi juga kepercayaan,” tambah Nenek.

Kakek tersenyum.

“Yang penting, jangan buru-buru mengejek cerita orang tua. Tetapi jangan pula langsung menganggapnya sebagai hukum alam.”

Aku tersenyum. Kalimat itu sederhana. Namun malam itu, entah mengapa, aku menyimpannya dalam-dalam.

Hari-hari berikutnya semakin panas. Di sekolah, kami tetap berusaha mengolah lahan. Bu Ranti, Guru Produktif, membagi kami ke dalam beberapa kelompok.

“Anak-anak,” katanya, “kondisi lahan seperti ini justru menjadi pembelajaran. Petani tidak hanya belajar menanam ketika keadaan ideal. Petani harus mampu membaca keadaan.”

Pak Herman, Guru Produktif yang lebih muda dari Bu Ranti, menambahkan, “Cari cara menghemat air. Jangan semua masalah diselesaikan dengan menyiram sebanyak-banyaknya.”

Kami berdiskusi. Ada yang mengusulkan mulsa. Ada yang ingin membuat penampungan air sederhana. Ada yang mencari jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Aku ikut mencatat. Namun dalam hati, aku masih memikirkan cerita Kakek. Tentang Tampomas. Tentang api. Tentang hujan.

Suatu siang, ketika kami sedang beristirahat, Guru Sejarah kami, Pak Surya, datang menghampiri. “Kalian tahu kenapa banyak masyarakat memiliki cerita tentang gunung?”

Kami saling berpandangan. “Karena gunung itu penting bagi kehidupan manusia,” jawabku.

Pak Surya tersenyum. “Bagus, Alif.”

Beliau kemudian bercerita bahwa masyarakat di berbagai daerah memiliki hubungan yang kuat dengan alam. Gunung bukan sekadar bentang alam. Ia menjadi sumber air, penanda musim, ruang hidup, sekaligus bagian dari ingatan budaya.

“Termasuk cerita tentang Tampomas,” katanya.

Aku langsung memperhatikan. “Pak, apakah benar ada kepercayaan masyarakat Sumedang bahwa kebakaran di salah satu sisi Tampomas menjadi pertanda berakhirnya kemarau?”

Pak Surya tersenyum. “Itu bagian dari cerita tutur yang berkembang di masyarakat. Kalian boleh menuliskannya sebagai kepercayaan atau kearifan lokal, tetapi jangan menyatakan bahwa kebakaran gunung secara ilmiah pasti menyebabkan hujan.”

Aku mengangguk. “Lalu bagaimana kalau kami menulisnya dalam cerpen?”

“Nah,” katanya, “justru di situlah sastra bekerja.”

“Bagaimana, Pak?”

“Cerpen tidak harus membuktikan apakah kepercayaan itu benar. Cerpen dapat memperlihatkan bagaimana sebuah cerita diwariskan, dipercaya, dipertanyakan, kemudian dimaknai kembali oleh generasi muda.”

Aku terdiam. Rasanya seperti mendapatkan jawaban dari sesuatu yang sejak beberapa hari mengganggu pikiranku.

Sore itu, ketika kami akan pulang sekolah, Raka tiba-tiba berteriak.

“Lif!”

Aku menoleh.

“Lihat!”

Kami berhenti.

Di kejauhan, di salah satu sisi Gunung Tampomas, terlihat kepulan asap. Awalnya kecil. Lalu semakin jelas. Beberapa murid mulai mengeluarkan telepon genggam.

“Gunung kebakaran!”

“Serius?”

“Lihat! Ada api!”

Jantungku berdegup lebih cepat. Aku teringat Kakek. Kalau salah satu sisi Tampomas terbakar, kemarau akan segera berakhir. Malamnya, aku menceritakan kejadian itu kepada Kakek. Kakek tidak langsung menjawab. Ia justru memandangku lama.

“Jangan bergembira karena gunung terbakar, Lif.”

Aku terdiam. “Kenapa, Kek?”

“Karena api di hutan bukan sesuatu yang boleh kita tunggu sebagai pertanda.”

Nenek mengangguk. “Kalau benar terjadi kebakaran, yang pertama harus dipikirkan adalah keselamatan alam dan manusia.”

Aku menunduk.

Kakek kemudian berkata, “Kalau nanti hujan datang, syukuri hujannya. Kalau ternyata hujan belum datang, jangan salahkan ceritanya.”

Aku tersenyum kecil. “Berarti Kakek tidak percaya?”

Kakek tertawa. “Kakek percaya pada cerita sebagai warisan. Tetapi Kakek juga percaya bahwa kamu harus menggunakan ilmu untuk memahami alam.”

Aku terdiam. Barangkali itulah yang selama ini tidak kupahami.

Keesokan harinya, Ibu Kepala Sekolah datang ke lahan praktik. Beliau melihat tanah yang kering, tanaman yang mulai layu, dan bak penampungan air yang hampir kosong.

“Bagaimana kondisi kalian?” tanyanya.

“Sulit, Bu,” jawabku.

Beliau tersenyum. “Sulit bukan berarti berhenti.”

Beliau kemudian duduk bersama kami. “Coba pikirkan. Apa yang bisa kita lakukan?”

Kami mulai menyampaikan pendapat. Mulsa. Penghematan air. Pemilihan tanaman. Pengolahan tanah yang tidak berlebihan. Pemanfaatan bahan organik.

Bu Isma mendengarkan satu per satu. “Bagus. Sekolah ini bukan tempat untuk menunggu keadaan menjadi mudah. Sekolah adalah tempat kalian belajar menghadapi keadaan yang tidak mudah.”

Aku menatap beliau. Kalimat itu seperti menyalakan sesuatu dalam pikiranku. Aku tiba-tiba teringat kata-kata Kakek. Cerita boleh diwariskan. Alam harus dipelajari.

Hari itu, kelompok kami membuat rencana sederhana. Kami menggunakan bahan organik yang tersedia, menutup sebagian permukaan tanah untuk menjaga kelembapan, mengatur jadwal penyiraman, dan membuat penampungan air sederhana. Kami tidak tahu apakah hasilnya akan berhasil. Tetapi setidaknya kami tidak lagi hanya mengeluh tentang kemarau. Kami mulai belajar berdamai dengannya.

Beberapa hari kemudian, langit berubah. Pagi masih panas. Siang masih menyengat. Namun menjelang sore, angin bertiup lebih lembut. Aku berdiri di halaman sekolah dan menatap Tampomas. Awan mulai berkumpul. Raka datang berlari.

“Lif!”

“Apa?”

“Kayaknya hujan!”

Aku tertawa. “Jangan-jangan karena Tampomas.”

Raka ikut tertawa.

Tidak lama kemudian, setetes air jatuh di tanganku.

Tik.

Aku menatap telapak tangan. Setetes lagi.

Tik. Tik.

Lalu semakin banyak.

Anak-anak bersorak. Kami berlari ke halaman. Hujan turun. Bukan hujan yang langsung deras. Tetapi cukup untuk membuat aroma tanah yang lama kering kembali memenuhi udara.

Aku menutup mata. Aku teringat Kakek. Aku teringat cerita masa kecilku. Aku teringat tanah di lahan praktik. Aku juga teringat pesan Pak Surya  dan Ibu Kepala Sekolah. Aku tidak tahu apakah hujan itu datang karena pertanda dari Tampomas. Aku tidak tahu apakah cerita Kakek benar secara ilmiah. Dan sekarang aku tidak merasa harus mengetahui jawabannya. Sebab aku mulai memahami sesuatu yang lebih penting. Cerita adalah cara manusia menjaga ingatan. Ilmu adalah cara manusia memahami kehidupan.Dan keduanya tidak harus saling meniadakan.

Seminggu kemudian, lahan praktik sekolah berubah. Tanah yang sebelumnya keras mulai lembap. Benih-benih yang kami tanam perlahan menunjukkan kehidupan. Satu per satu tunas kecil muncul. Aku jongkok di antara bedengan. Jari-jariku menyentuh tanah.

Dulu aku mengira menjadi murid SMK Negeri Pertanian berarti belajar bagaimana menanam. Ternyata lebih dari itu. Aku belajar membaca tanah. Belajar memahami air. Belajar menghormati alam. Dan belajar mendengarkan cerita orang-orang yang hidup jauh sebelumku.

Sepulang sekolah, aku kembali duduk bersama Kakek.

“Sudah hujan, Kek.”

Kakek tersenyum. “Syukurlah.”

“Berarti cerita Kakek benar?”

Kakek tertawa. “Menurutmu?”

Aku ikut tertawa. “Entahlah.”

“Nah, itu jawaban yang bagus.”

Aku memandang Tampomas dari kejauhan. Gunung itu kembali tenang. Tidak ada api. Tidak ada asap. Hanya hijau pepohonan dan kabut tipis yang menggantung di lerengnya. Aku baru sadar, mungkin yang diwariskan Kakek kepadaku bukanlah keyakinan bahwa api di Tampomas akan mendatangkan hujan. Yang diwariskannya adalah sebuah pesan: Dengarkan alam. Hormati cerita leluhur. Tetapi gunakan ilmu untuk memahami keduanya.

Aku tersenyum. Besok pagi aku akan kembali ke sekolah. Masih ada lahan yang harus diolah. Masih ada tanaman yang harus dirawat. Masih ada pelajaran yang harus dipelajari. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika aku menjadi petani atau guru atau siapa pun aku kelak, aku akan menceritakan kisah yang sama kepada anak-anak setelahku. Bukan untuk membuat mereka percaya begitu saja. Melainkan agar mereka tahu bahwa di tanah Sumedang ini, pernah hidup orang-orang yang membaca tanda-tanda alam dengan caranya sendiri. Dan bahwa setiap cerita yang diwariskan selalu menyimpan jejak kehidupan.

Aku menatap Tampomas sekali lagi. Gunung itu tetap diam. Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ia sedang bercerita. Tentang tanah. Tentang hujan. Tentang manusia. Dan tentang sebuah warisan yang tidak boleh hilang begitu saja.***

Sumedang, 9 Agustus 2026


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar