Senin, 17 Oktober 2022

Terjebak Nostalgia

 


Kami meninggalkan Stasiun Bandung tepat saat matahari sudah terbit sempurna dengan kereta pertama. Aku mencoba mengatur debar jantung yang tak karuan bahkan sejak dua malam yang lalu ketika Langit menyampaikan isi hatinya padaku.

Memang sudah lama aku mengetahui hubungan Langit dengan seorang gadis. Hampir setiap akhir pekan Langit menceritakan gadis pujaan hatinya tersebut padaku. Namun, tak kusangka ia akan secepat itu bermaksud serius dengan gadis yang berasal dari kota yang sama dengan kota kelahiranku, Sumedang.

“Pah, Langit tahu sudah sudah lama sekali Papah tidak pernah kembali ke Sumedang tapi kali ini Langit mohon sama Papah. Langit mohon izin untuk bertemu Ra dan keluarganya di Sumedang akhir minggu ini,” ucap Langit memohon padaku.

Kuhela napas panjang sebelum menjawabnya, “Baiklah, Nak. Lusa kita ke sana.”

Langit memelukku erat sambil mengucapkan terima kasih. Kutinggalkan Langit di ruang tengah saat menelpon Ra. Kutatap kerlip lampu Kota Bandung yang tak pernah padam. Anganku berputar seolah ingin mendahului lusa.

Sebenarnya bukan hal yang sulit untukku untuk pergi ke Sumedang. Jarak Bandung-Sumedang kini semakin dekat. Selain akses jalan tol Cisumdawu yang sudah lancar memperpendek jarak tempuh, kini ada jalur kereta juga yang menghubungkan Sumedang-Bandung. Namun, perasaan berat atas masa lalu yang membuat langkahku berat hingga akhirnya aku menetap di ibukota provinsi ini.

Langit memilih kereta  sebagai moda transportasi kami ke Sumedang untuk menemui Ra dan keluarganya. Ia sengaja tidak membawa mobil dengan alasan ingin menikmati perjalanan tanpa harus fokus ke jalan. Kuikuti saja keinginannya sekaligus penasaran perjalanan seperti apa yang akan kutemukan.

Perjalanan kereta api cepat Bandung-Sumedang hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja. Meskipun kereta api cepat tetapi kami masih bisa menikmati pemandangan alam yang  indah sepanjangan perjalanan. Melewati bukit dan perumahan di kejauhan, jantungku kian berdetak kencang. Entahlah, kenapa begitu sulit kuredakan debaran ini.

Tanpa terasa, kami telah tiba di Stasiun Jatihurip Sumedang saat pagi menggeliat menyambut hari Sabtu. Keluar dari gerbang stasiun kami sudah disambut oleh pengemudi taksi daring yang sudah dipesan Langit.

Taksi yang kami tumpangi berjalan pelan tapi pasti membelah kota yang membuatku terpana.

“Wah, sudah banyak perubahan, rupanya,” gumamku.

“Sumedang banyak berubah, ya, Pah?” sambar Langit seolah memahami maksudku.

Sebelum kujawab pertanyaan Langit yang sebenarnya tak perlu kuulang, sopir taksi mendahuluiku.

“Betul, Mas, Pa. Sumedang sekarang sudah benar-benar “ngota”.”

“Maksudnya “ngota” apa, ya, Pak?” tanya Langit.

“Iya, Sumedang seperti sudah jadi kota besar, Mas. Seperti tadi Mas dan Bapak dari stasiun kereta. Dulu mana ada kereta lewat kota ini. Jalan tol juga udah bagus, mobil dari luar Sumedang  langsung masuk kota tanpa harus lewat Cadas Pangeran.”

“Oh, iya, Pak, betul,” balas Langit sambil manggut-manggut. Kulihat ia setuju dengan pernyataan Langit karena beberapa kali menemui Ra di Sumedang  telah melewati berbagai jalan akses dan moda transportasi yang berbeda.

Aku hanya menyimak percakapan Langit dan sopir taksi yang kulihat dari kartu identitas di atas dashboard-nya bernama Rama itu. Ya, memang banyak perubahan kulihat. Sepanjang perjalanan dari stasiun kereta tadi banyak kulihat gedung-gedung bertingkat yang digunakan untuk perkantoran maupun bisnis. Ada beberapa mall juga yang berdiri megah di sepanjang jalan besar yang membelah pusat kota ini.

Rama pun menceritakan tentang Bendungan Jatigede yang sudah mudah dapat diakses dengan berbagai moda transportasi. Begitu pula jika ingin ke Bandara Kertajati, sekarang dapat ditempuh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Tidak ketinggalan jalan-jalan yang menghubungkan kota dengan kecamatan, kecamatan ke desa-desa, sampai ke pelosok  kampung dan perbatasan wilayah terluar kabupaten.

Mayoritas desa-desa di Sumedang sudah mandiri dalam pengelolaan manajemen maupun ekonomi masyarakatnya. Didukung pula dengan jejaring infrastruktur baik fisik maupun digital.

Aku menyimak penjelasan Rama yang lumayan panjang lebar tentang perkembangan kota kelahiranku ini. Ah, seandainya aku tetap menetap di sini, akan kunikmati semua perubahan dan perkembangan kota ini dengan langsung. Selama ini aku memang selalu mengikuti perkembangan Sumedang melalui pemberitaan di media daring. Aku bangga dengan perubahan dan perkembangan kotaku yang melesat ini.

“Iya, benar, Mas. Sejak masa pemerintahan Pak Bupati Dony Ahmad Munir, kota ini berkembang sangat pesat,”  ucap Rama yang diaminkan Langit hampir bersamaan dengan anggukan kepalaku.

“Padahal di awal masa jabatannya, sempat terhadang pandemik virus Covid 19 tetapi Pak Bupati beserta jajarannya tetap melakukan pembangunan di berbagai bidang. Saya saat itu masih sekolah tapi melihat jejak pembangunan beliau sungguh luar biasa sampai sampai saat ini,” lanjut Rama.

Aku setuju dengan Rama. Rasa bangga akan kampung halaman selalu aku rasakan walaupun selama ini aku selalu merasa berat untuk kembali ke sini, kecuali hari ini. Demi putra semata wayangku yang kubesarkan dengan segenap jiwa sejak ia lahir dan langsung kehilangan ibu kandungnya.

Hf, jantungku rasanya melesak ketika taksi melewati sekolah almamaterku sebelum akhirnya berbelok ke arah selatan pusat kota. Sekolahku dulu yang kini sudah berubah rupa menjadi jejeran gedung sekolah bertingkat lima itu kian megah di mataku.

“Pah, itu SMA Papah, kan?”

Karena aku terdiam, Rama juga ikut bertanya padaku,”Bapak alumni SMA 1 juga? Angkatan berapa? Saya angkatan 2019.”

“Papah angkatan tahun 99, Mas,” jawab Langit sambil tersenyum padaku.

“Oh, berarti Bapak seangkatan dengan Tante saya, Pak. Mungkin Bapak kenal dengan Tante  Nuri kelas IPS 1,” lanjut Rama.

Deg. Jantungku kian melesak rasanya. Aku terbatuk-batuk tidak karuan sampai Langit menyodorkan botol mineral yang ia keluarkan dari tas ranselnya.

“Papah tidak apa-apa?” tanya Langit khawatir dan kujawab dengan anggukan setelah berhasil meneguk air dalam botol.

“Sebentar lagi kita sampai, Pah,” lanjut Langit.

“Sahabat kakak saya juga tinggal di daerah sini, Mas,” ucap Rama.

“Oh, ya?” tanya Langit.

“Nah, kita sudah sampai, Mas. Dan itu rumahnya Tante  Rana, sabahat Tante Nuri, tante  saya,” terang Rama sambil menunjuk rumah berwarna putih berhalaman luas di pinggir jalan.

Aku coba menyingkirkan keringat dingin yang sudah kurasakan dari tadi dengan mengelapnya dengan sapu tangan.

“Ayo, Pah, kita turun,” ajak Langit yang sudah di luar mobil membukakan pintu untukku.

Aku berjuang menguatkan kakiku untuk terus mampu menopang tubuhku yang mulai goyah seiring debaran jantung yang makin kacau iramanya.

Kulihat Langit dan Rama saling bertukar kartu nama dengan senyum bahagia terpancar dari keduanya sebelum Rama berlalu dan melambaikan tangan padaku.

Langit mengucap salam dan mengetuk pintu berukir sederhana namun terlihat unik. Setelah terdengar jawaban salam, pintu terbuka dan kulihat seorang gadis mungil berkerudung pasmina  warna peach keluar dengan terkejut menyambut kedatangan kami.

Aku dan Langit duduk di sofa berwarna hitam di ruang tamu tersebut setelah gadis itu menyilakan kami kemudian berlalu. Kulihat ia menuruni tangga berpagar kayu berpernis. Karena kontur tanah perumahan di sini berbukit dan berundak, jadi bagian rumah yang sejajar dengan jalan adalah sebenarnya bagian lantai dua rumah ini.

Langit mengerutkan dahi melihatku. Kubalas dengan gelengan kepala dan gerak bibir bahwa aku baik-baik saja.

Padahal tidak di dalam hatiku. Langit belum tahu bahwa aku sudah sangat mengenal rumah ini jauh sebelum ia mengenal gadis bernama Ra yang tadi dikenalkan padaku.

Lamunanku buyar ketika Ra datang kembali dengan membawa gelas-gelas minuman dan menatanya di atas meja tamu menemani toples-toples camilan yang sudah terpajang  sejak awal.

Ra memperkenalkan seseorang yang tadi berjalan di belakangnya dan kini berhadapan denganku dan Langit.

“Om,  kenalkan ini Bunda,” ucap Ra padaku.

Langit menganggukkan kepala padaku setelah mendekapkan tangan sebagai salam pada ibunya Ra. Aku mematung. Tatapku nanar memandang dengan berbagai rasa pada sosok yang berdiri anggun di hadapanku. Ia pun menatapku dengan binary yang sama. Kerinduan.

“Ra."

“Pras.”

“Iya, Om?” gadis yang berdiri di samping Langit menjawab dan menatapku.

“Hm, bukan, kamu, Ra. Sepertinya Papah dan Bunda saling mengenal, deh,” sambar Langit.

“Oh, ya ampun, maaf.”

Ra dan Langit tertawa kemudian aku dan ibunya Ra ikut tertawa juga dengan terpaksa. Sungguh aku tidak menyangka akan kenyataan yang sedang di depan mata. Aku mencoba menerjemahkan debaran jantung yang kurasakan sejak di kereta api tadi sampai akhirnya bertemu dengan Rana, ibunya Ra.

“Jadi, Papah dulu juga memanggil Bunda Rana dengan Ra? Sama seperti aku memanggil Rakhsandrina dengan panggilan Ra.” Langit dan Ra tersenyum setelah aku dan Rana menjelaskan hubungan kami sebenarnya kepada anak-anak kami.

“Ra tidak menyangka kalau Bunda dan Om Pras ternyata bersahabat, ya,” lanjut Ra yang diamini kami semua.

Ya, betul.  Jauh sebelum aku mengenal ibunya Langit, aku sering main dengan Rana dan Nuri yang tadi disebutkan oleh Rama. Kami bertiga berteman sejak hari pertama masuk dengan seragam baru putih abu-abu. Sejak itu, kami bersahabat dan tidak terpisahkan. Namun, sayang, komitmen persahabatan kami ternodai perasaan cinta yang tumbuh dan mulai mengakar atas nama persahabatan. Teman-teman yang lain menyebut persahabatan kami terjebak cinta segitiga.

Sebelum pengumuman kelulusan, aku sempat mengungkapkan perasaanku pada Rana. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, Rana memintaku untuk tidak menceritakan perasaan  kami masing-masing pada siapapun tidak terkecuali Nuri.

Hingga tepat pada hari pengumuman kelulusan SMA, Nuri mengalami kecelakaan lalu lintas. Nuri menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah dua hari mendapat perawatan intensif. Sebelum kecelakaan itu, ia sempat menitipkan buku diarinya pada Rana. Rana baru berani membacanya setelah Nuri meninggal dunia. Di halaman terakhir tulisannya, Nuri mengungkapkan isi hatinya selama ini kepada Rana dan Pras. Ternyata sudah sejak kelas satu Nuri merasakan jatuh cinta pada Pras yang ia pendam dalam-dalam karena persahabatannya dengan Rana.

Aku dan Rana tidak bisa menahan perasaan sesal dalam dada. Kami merasa kecelakaan yang dialami Nuri  ada andil dari kami. Nuri menangkap basah kami sedang berpegangan tangan  setelah menerima pengumuman kelulusan. Nuri menatap nanar kami berdua yang saat itu terkejut dan spontan saling melepaskan tangan. Setelah itu Nuri berlari meninggalkan kami. Rana mencoba mengejar Nuri yang berlari ke tempat parkir kemudian pergi dengan sepeda motornya. Tidak lama kemudian kabar kecelakaan itu kami terima.

Sejak saat itu, Rana mundur teratur dariku. Aku mencoba menjelaskan padanya bahwa semua sudah menjadi takdir Tuhan. Namun, ia kukuh dengan perasaan bersalahnya dan bersikap  menjaga jarak denganku. Sampai akhirnya aku dan Rana benar-benar berpisah. Walaupun kami sama-sama melanjutkan pendidikan tinggi di Bandung, Rana di UPI dan aku di ITB, kami tidak pernah berkabar apalagi bertemu langsung. Aku benar-benar kehilangan Rana.

Bertahun-tahun aku mencoba melupakan peristiwa itu. Namun, sampai detik aku kembali dapat menatap mata bulat Rana, aku benar-benar tidak dapat melupakannya.

“Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, Pras,” ucap Rana dengan tatapan matanya yang masih seperti dulu.

“Aku juga. Tidak kusangka, melalui anak-anak, kita bisa bertemu lagi,” balasku.

Kami mengobrol di balkon belakang rumah lantai duanya. Menatap pesawahan yang masih sama seperti puluhan tahun lalu saat aku dan Nuri sering belajar bareng di saung tepi sawah milik orang tua Rana. Kini, giliran Ra dan Langit yang berlarian sambil sesekali berswafoto di pematang sawah. Aku bahagia melihat mereka begitu ceria dan bahagia. Semoga kehidupan mereka selanjutnya akan terus diwarnai keceriaan dan kebahagiaan.

Sebelumnya, aku dan dan Langit sudah menyampaikan lamaran kepada Rakhsandrina yang diterima oleh gadis itu yang juga dihadiri oleh Rana dan kakaknya yaitu Rafa yang juga terkejut saat bertemu lagi denganku.

Aku dan Langit pamit saat senja menjelang. Keluarga Ra membekali kami dengan bermacam oleh-oleh. Sebelum naik taksi yang dipesan daring oleh Langit, sekali lagi aku menatap mata Rana. Ada rinai yang sama kutemukan di sana yang membuatku tenang kali ini meninggalkannya.***

Sumedang, 9 Oktober 2022



Jumat, 07 Oktober 2022

JURNAL REFLEKTIF 7: Coaching untuk Supervisi Akademik

 


Jurnal Refleksi Dwimingguan (7)  Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik ini saya tulis sebagai salah satu media atau ruang untuk menuangkan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan dengan memilih model refleksi Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future).

Jurnal ini merupakan bagian refleksi pembelajaran dan aktivitas yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Pada dua minggu ini  ada beberapa aktivitas pembelajaran yaitu diawali dengan mengerjakan Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik.

 1. Facts (Peristiwa)

Kegiatan awal yang saya lakukan  pada Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik yaitu saya melakukan aktivitas LMS dengan melewati tahapan alur MERDEKA yang dimulai dari tahapan Mulai dari Diri pada hari Selasa tanggal 25 September 2022 dan dilanjutkan Eksplorasi Konsep pada hari berikutnya yaitu  tanggal 26 september 2022.

Pada tanggal 27 September 2022 saya menggunggah tugas Ruang Kolaborasi. Tugas Demonstrasi Kontekstual dapat saya selesaikan pada tanggal 6 Oktober 2022.  Pertemuan tatap maya dengan Instruktur dilakukan pada hari Selasa tanggal 4 Oktober 2022 bersama Instruktur Esti Tyaswening.

Saya menyelesaikan tugas Koneksi Antarmateri Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik pada tanggal 6 Oktober 2022. Pelaporan Tugas Aksi Nyata Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik akan berakhir pada tanggal 26 Oktober 2022.

 2. Feelings (Perasaan)

Saat mengikuti aktivitas memahami dan berdiskusi mengenai materi  Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik ini saya mulai memahami tentang makna coaching dan bagaimana penerapannya dengan tahapan TIRTA dan juga terdapat akronim lain seperti mendengarkan dengan RASA yang merupakan sebuah teknik/metode dalam menerapkan prisip coaching.

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” 

Supervisi akademik memiliki tujuan untuk mengevaluasi kompetensi mengajar guru dan proses belajar di kelas. Pertanyaannya, apakah kita bisa mengevaluasi dan juga sekaligus memberdayakan? Costa dan Garmston (2016) menyampaikan bahwa kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil yang diharapkan. Namun, posisi awal yang kita ambil adalah posisi sebagai seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan hasil yang diharapkan oleh guru yang akan kita berdayakan. Oleh sebab itu, prinsip dan paradigma berpikir coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang. 

 3. Findings (Pembelajaran)

Pada modul ini banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapatkan melalui Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik yang dapat saya terapkan untuk murid dan rekan sejawat.

Bukti nyata bagaimana seorang guru harus membangun karekter murid salah satunya dengan penerapan pembelajaran sosial emosional yang telah dipahami pada materi modul sebelumnya juga memanfaatkan prinsip coaching dalam upaya mengarahkan peserta didik untuk menemukenali potensi diri dan mengembangkannya sehingga dapat menjadi pribadi yang potensial dan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Pembelajaran sosial emosional dapat pula dikolaborasikan dengan pembelajaran berdiferensiasi agar lebih maksimal untuk menghadirkan pelayanan yang optimal pada murid sesuai denga prinsip amor menurut Ki Hajar Dewantara.

 4. Future (Penerapan)

Setelah memahami bagaimana paradigma berpikir dan prinsiap yang dibutuhkan agar dapat menjalankan percakapan coaching saya juga  belajar memahami kompetensi inti dalam coaching.

Berdasarkan ICF (International Coaching Federation) ada 8 kompetensi inti namun untuk kebutuhan Pendidikan Guru Penggerak, kita mempelajari  3 kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah.

Kompetensi inti coaching:


  1. Kehadiran Penuh/Presence
  2. Mendengarkan Aktif
  3. Mengajukan Pertanyaan Berbobot
  4. Memberdayakan Coachee

Saya banyak menemukan wawasan baru yang sangat bermanfaat untuk aktivitas saya sebagai seorang pendidik apalagi saat ini kami mulai menyelami Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik yang pada akhirnya sebagai pembelajaran untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang diharapkan mampu mengimplementasikan prinsip coaching. Setelah mengakhiri praktik pembelajaran yang berpihak pada murid pada paket  Modul 2 ini saya optimis menjadi pribadi lebih mantap dan siap menuju masa depan dengan memahami konsep untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang dapat mewujudkan peserta didik yang memiliki dimensi-dimensi Profil Pelajar Pancasila.***

*) Penulis adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 5 dan seorang pendidik pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 2 Sumedang, Jawa Barat

 

JURNAL REFLEKSI 6: Pembelajaran Sosial dan Emosional



 “Kita akan lebih mudah memahami dan menghadapi masalah yang timbul, jika saja kita mau mengakui bahwa kita juga punya kelemahan dan ketakutan yang sama.” 

(Rusdy Rukmarata, Budayawan)

 

Pada kesempatan ini, saya merefleksikan hasil dari kegiatan yang saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi Dwimingguan kali ini membahas materi Modul 2.2. Pembelajaran Sosial dan Emosional.  Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai ruang atau media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi yang saya pakai adalah Model 5R (Reporting, Responding, Relating, Reasoning, Recontructing)

 

1. Reporting

Saya mulai mempelajari bagian Mulai dari Diri Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional  pada hari Rabu tanggal 14 September 2022. Selanjutnya, Kamis, 15 September 2022 saya sudah menyelesaikan rangkaian Eksplorasi Konsep Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional . Setelah melaksanakan dua kali pertemuan tatap maya dengan Fasilitator, Kurnia Rahmianum, M.Pd., saya mengunggah Tugas Ruang Kolaborasi pada tanggal 18 September 2022. Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional saya selesaikan dan unggah ke LMS pada tanggal 22 September 2022. Setelah sebelumnya, yakni pada hari Selasa, tanggal 20 September 2022 saya mengikuti ruang tatap maya bersama Instruktur Cucu Hadiati pada Sesi 1 mulai pukul 13.00 sampai dengan pukul 14.30 WIB.

Pada hari Kamis, 22 September 2022  itu pula saya menyelesaikan dan menggunggah tugas Koneksi Antarmateri Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan mengunggah Rencana Aksi Nyata.

 

2. Responding

Pada  Ruang Kolaborasi, saya mempelajari 5 Kompetensi Sosial-Emosional (KSE), lalu sekarang saatnya saya dan teman-teman CGP berkolaborasi untuk menyusun teknik-teknik pembelajaran pembelajaran sosial dan emosional tersebut. Jika sebelumnya saya bekerja sendiri, kali ini saya akan melakukan aktivitas berkelompok bersama guru-guru dari jenjang pendidikan yang sama. Pada tahap inilah saya memperdalam pemahaman saya melalui aktivitas yang memungkinkan kami saling bertanya, melempar ide, mengklarifikasi pemahaman ataupun miskonsepsi yang mungkin masih saya miliki. Dalam sesi ini, saya akan diminta untuk bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menyusun teknik-teknik pembelajaran kompetensi sosial dan emosional.

Pada dasarnya proses social emotional learning dapat diterapkan dengan beberapa cara di bawah ini:

1. Mulai hari dengan membangun kedekatan emosional bersama siswa

2. Gunakan metode mengajar story telling atau bercerita

3. Biasakan untuk memberikan siswa tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok

4. Berikan kesempatan pada siswa untuk mengutarakan pendapatnya

5. Bantu siswa mengetahui perkembangan dirinya sendiri

 

3. Relating

Dengan Kompetensi Pembelajaran Sosial dan Emosional ini CGP diharapkan mampu mengatasi sikap dan emosinya dalam setiap situasi yang dihadapinya, terutama yang menimbulkan konflik dan tekanan. Situasi tersebut baik yang berhubungan dengan tugasnya di sekolah saat menghadapi siswa dan pekerjaan lainnya, perannya di masyarakat, maupun perannya dalam keluarga. Agar CGP mampu memiliki kesadaran diri sebagai individu, kesadaran sebagai mahluk sosial, pengelolaan diri dan emosinya, dan dalam mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

 

4. Reasoning

Pembelajaran Sosial Emosional ini sangat penting untuk dikuasai sebagai salah satu  upaya menjadi pribadi seorang guru yang lebih baik. Seorang guru yang mampu memberikan yang terbaik bagi siswanya, memahami keinginan dan kebutuhan siswanya, juga mampu mengenali dan mengelola dirinya. Sebagai seorang guru yang terkadang harus menghadapi tugas yang multitasking, CGP diberikan bekal dan alternatif penyelesaian berupa pembelajaran yang sangat kompleks dalam menghadapi suatu masalah atau konflik.


5. Recontructing

Sebelum mempelajari Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional  saya berpikir bahwa Pembelajaran Sosial Emosional diterapkan hanya kepada murid yang mengalami permasalahan yang   berhubungan  dengan sikap atau prilaku mereka saja, sehingga penerapannya cukup dilakukan  di luar pembelajaran akademik.  Setelah mempelajari modul ini, saya belajar dan berusaha memahami bahwa ternyata pada hakikatnya Pembelajaran Sosial Emosional bertujuan untuk memberikan keseimbangan kepada individu serta mengembangkan potensi personal yang diperlukan  untuk meraih  kesuksesan.

Saya berencana akan menerapkan 5 Keterampilan PSE ini mulai dengan ngaji diri, ngukur diri, ngaca diri, sehingga tujuan pembelajaran sosial emosional ini dapat terwujud.***

*) Penulis adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 5 dan seorang pendidik pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 2 Sumedang, Jawa Barat


JURNAL REFLEKSI 5: Pembelajaran Berdiferensiasi

 


1. Facts (Peristiwa)

Setelah mempelajari materi pada Modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan belajar murid pada Pendidikan Guru Penggerak, saya diingatkan untuk lebih intensif memerhatikan kebutuhan belajar setiap murid dalam kelas saya. Selama ini saya berpikir dengan hanya memberikan satu jenis media pembelajaran pada satu materi saja sudah  cukup untuk dipahami oleh semua murid tanpa menyadari perbedaan kebutuhan belajar masing-masing murid.  

2. Feelings (Perasaan)

Pemahaman saya terhadap  materi Modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi turut mengubah pola pikir saya selama ini untuk kemudian  dapat bekerja lebih baik lagi dan dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang sudah saya pelajari ini agar mampu mengakomodasi setiap perbedaan murid di kelas yang saya ampu.

Merupakan suatu hal yang penting bagi  saya untuk  melakukan analisis diagnostik kognitif dan analisis diagnostic nonkognitif di awal semester untuk  lebih intensif dalam memahami kebutuhan belajar murid sehingga saya dapat menerapkan strategi, media, maupun  metode yang tepat bagi mereka. Saya memahami bahwa  tidaklah akan mudah dalam proses penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini tetapi  saya akan terus belajar dan berupaya mewujudkannya.

Namun demikian,  guru memang bukanlah malaikat yang harus menyiapkan sekian banyak tujuan dan metode yang berbeda dalam waktu yang bersamaan untuk setiap murid. Guru dapat melakukan strategi pembelajaran diferensiasi yang tepat agar dapat mengakomodasi semua siswa yang memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda yang berbeda-beda pula.

3. Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran Berdiferensiasi  yang terdapat pada Modul 2.1 ini berkaitan erat dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, penerapan budaya positif sebagai wujud disiplin positif, dan tentunya bermuara pada tujuan mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan  suatu upaya untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas guna memenuhi kebutuhan belajar individu. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang digunakan untuk mendukung semua murid di kelas kita. 

4. Future (Penerapan)

Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan cara memerhatikan beberapa hal yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yaitu  di antaranya profil belajar murid, minat, lingkungan belajar, dan kesiapan murid.***

*) Penulis adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 5 dan seorang pendidik pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 2 Sumedang, Jawa Barat

 

JURNAL REFLEKSI 4: Budaya Positif

 


Budaya positif merupakan  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, serta  kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid dengan tujuan agar  murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat, dan bertanggung jawab.

Dalam mewujudkan  budaya positif di sekolah tidak dapat berdiri sendiri.  Kolaborasi sangat penting dan diperlukan untuk mewujudakan penerapan budaya positif di sekolah.

Dari seluruh kekuatan yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah, koordinasi semua pihak merupakan hal yang penting dan harus segera dilaksanakan. Pihak-phak yang harus berkoordinasi yaitu  Kepala Sekolah, rekan guru, murid dan orang tua serta lembaga kemasyarakatan lainnya yang dapat mendukung pelaksanaan budaya positif.

Penerapan budaya positif dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari di sekolah erat berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan lainnya.  Misalnya dalam hal kehadiran di sekolah. Menerapkan budaya malu datang terlambat itu sangat penting dan dapat diterapkan di setiap lini kehidupan.

Setelah beajar dan mempelajari Modul pertama dari modul 1.1 sampai dengan modul 1.4  saya menemukan keterkaitan yang  erat  dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya.

Budaya positif  yang dapat diterapkan di sekolah dilaksanakan sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. KHD berpesan agar para pendidik dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Oleh karena itu menurut KHD, pendidikan merupakan suatu  tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. 

Seorang Guru diibaratkan sebagai seorang petani yang mengelola dan menuntun siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi sesuai kodrat alamnya dan budaya positif agar dapat menjadi murid yang berprofil pelajar Pancasila (beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, dan berkebinekaan global). Dalam menyusun program penerapan budaya positif  di sekolah juga diperlukan kolaborasi dengan murid. Sehingga murid tidak merasa terbebani dalam melaksanakan budaya positif tersebut. Murid diajak turut serta dalam membuat suatu kesepakatan yang berpihak pada murid. Hal ini merupakan implementasi dari program “Merdeka Belajar” itu sendiri. Selain itu, seorang guru juga perlu menguasai dan mengaplikasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak dalam melaksanakan budaya positif di sekolah yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid.

Budaya positif merupakan bagian dari visi seorang guru penggerak. Budaya positif harus dikembangkan dan diterapkan sehingga mampu untuk mewujudkan visi guru penggerak yang kelak  juga akan lebih luas lagi menjadi sebuah  visi sekolah yakni  “Terwujudnya merdeka belajar dan murid yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila”.

Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan adanya kolaborasi kekuatan positif yang dimiliki baik dari luar maupun dari dalam sekolah itu sendiri (pemetaan kekuatan). Untuk mewujudkan kolaborasi ini, dapat dilakukan melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan melaksanakan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali impian, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). Inkuiri Apresiatif merupakan  suatu pendekatan berbasis kekuatan positif yang dimiliki.

Oleh karena itu,  peran guru penggerak sangat penting dalam menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun dan menerapkan  budaya positif di sekolah. Yang dapat dilakukan oleh seorang guru penggerak di antaranya berikut ini.

  1. Guru penggerak harus mampu menjadi contoh bukan hanya member contoh.
  2. Guru penggerak mampu menjadi teladan
  3. Guru Penggerak dapat menjalin kolaborasi dengan  seluruh warga sekolah dalam menerapkan  budaya positif
  4. Guru Penggerak mampu menciptakan dan menggerakkan komunitas praktisi yang ada di sekolah
  5. Guru Penggerak menjadi coach bagi guru lain dan  menjadi pemimpin dalam pembelajaran yang berpihak pada murid

Seorang Guru Penggerak harus dapat  menumbuhkan dan menerapkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif di sekolah yang kemudian  menjadi visi di sekolah. Beberapa langkah yang dapat  dilaksanakan oleh seorang Guru Penggerak sebagai berikut.

  1. Memulai dari diri sendiri dalam menumbuhkan serta menerapkan budaya positif di kelas dan menjadi contoh dan teladan bagi seluruh warga sekolah
  2. Mensosialisasikan dan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah
  3. Memiliki  kesabaran, keuletan, dan berpikir positif baik terhadap penolakan ide dan pelanggaran maupun berbagai dukungan yang ada
  4. Melakukan  refleksi dan perbaikan secara berkelanjutan

 Demikian jurnal refleksi ke-4 terhadap Modul 1.4 Budaya Positif ini. Semoga bermanfaat, salam dan bahagia. Salam Guru Penggerak!***

JURNAL REFLEKSI 3: Visi Guru Penggerak

 


Menurut Townsin, inkuiri apresiatif dapat menyuntikkan energi, harapan dan optimisme ketika kebutuhan untuk perubahan telah teridentifikasi.

 

Pada modul 1.3 tentang visi guru penggerak ini, kami dituntut untuk dapat menentukan visi pribadi sebagai calon guru penggerak untuk dapat diterapkan dan menjadi suatu perubahan tertentu. Kami pun berlatih untuk kebutuhan perubahan tersebut dengan menggunakan pendekatan Inkuri Apresiatif.

 

Sebagai pendidik, kita perlu ingat kembali tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Sekarang, berdasarkan pedoman itu, Profil Pelajar Pancasila diharapkan menjadi pegangan untuk para pendidik di ruang belajar yang lebih kecil. Profil ini tidak hanya dimiliki oleh murid berprestasi secara akademik atau murid yang menonjol dalam bakat lainnya, profil pelajar Pancasila ini diharapkan dimiliki oleh seluruh murid Bapak/Ibu di dalam kelas.

 

Dalam modul Visi Guru Penggerak mengenai pendekatan Inkuiri Apresiatif ini kita dapat menggali nilai-nilai positif yang baik sehingga dapat menerapkan visi guru penggerak yang berbasis pada kekuatan.

 

Pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) merupakan suatu strategi perubahan kolaboratif yang berbasis kekuatan. Pendekatan Inkuiri Apresiatif merupakan sebuah solusi strategi perubahan


yang tidak terdapat pada pendekatan lainnya. Dengan pendekatan Inkuiri Apresiatif diharapkan mampu mengaktualisasi potensi masing masing individu dalam kelompok menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dalam melakukan perubahan.

 

Pendekatan IA (Inkuiri Apresiatif) dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis perubahan. IA juga dapat berfungsi sebagai salah satu model manajemen perubahan dan dalam penerapannya dilakukan melalui tahapan- tahapan dalam Inkuiri Apresiatif yang disebut dengan BAGJA.

 

BAGJA merupakan sebuah alur langkah–langkah yang mengikuti pendekatan Inkuiri Apresiatif. BAGJA terdiri dari B yang berarti Buat pertanyaan, A berarti Ambil pelajaran, G berarti Gali mimpi, J berarti  Jabarkan rencana, dan A berarti Atur eksekusi.

 

Paradigma atau pendekatan Inkuiri Apresiatif juga sejalan dengan pernyataan Ki Hadjar Dewantara yang berkaitan dengan kekuatan dan hal positif. KHD menyatakan bahwa anak- anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri baik kodrat alam maupun kodrat zaman. Pendekatan atau paradigma Inkuiri Apresiatif sejatinya mampu menggali potensi setiap anak sesuai dengan kodratnya masing masing. Dengan demikian, pendekatan   ini dapat menjadi salah satu metode untuk mencapai visi yang sesuai dengan visi Ki Hadjar Dewantara.

 

Tahapan BAGJA melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif memiliki peran penting bagi guru dalam mewujudkan “murid merdeka” yaitu sebagai berikut.

 

1.  Dapat menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

2.  Dapat menggali potensi pada diri murid dari segi bakat, minat, cara belajar, dan lain-lain, sesuai dengan kodrat zaman yakni mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman murid itu bertumbuh dan berkembang.

3.  Dapat menciptakan suasana kelas yang bermakna dan menyenangkan.

4.  Dapat menumbuhkan motivasi intrinsik murid.


Setelah kita mengetahui peran penting seorang guru maka kita dapat mengambil langkah konkret dalam penerapan pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan menggunakan model BAGJA, yaitu sebagai berikut:

1.     Memahami kekuatan kekuatan positif guru penggerak yang sudah dimiliki.

2.  Menyusun visi guru penggerak dengan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif.

3.   Mencatat atau mendata berbagai kendala yang kemunginan akan muncul dan berusaha menemukan solusi secara bersama-sama (kolaborasi)

4.   Berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan serta   dengan                                                melakukan perannya masing-masing dengan baik.

 

Pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan model BAGJA ini dapat kita gunakan sebagai sebagai salah satu upaya dalam peningkatan manajemen organisasi/sekolah atau pembelajaran dalam kelas. Kolaborasi diperlukan dalam penerapan pendekatan tersebut yakni antar-pemangku kepentingan seperti pemerintah, warga sekolah, dan elemen masyarakat yang merupakan hal yang wajib dilakukan apabila kita ingin mencapai hasil perubahan yang maksimal pula.


 Akhirnya, saya merumuskan sebuah VISI yang semoga terus membuat saya bersemangat ketika membacanya dan dapat menggerakkan hati setiap orang yang membacanya.

 Sebagai pendidik, Saya harus makin berdaya dalam menyediakan dukungan yang diperlukan untuk menuntun kekuatan kodrat murid sebagai warga masyarakat yang “CAKEP” (Cerdas, Berakhlak Mulia, Kreatif, Melek Teknologi, dan Berjiwa Pemimpin).***

*) Penulis adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 5 dan seorang pendidik pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 2 Sumedang, Jawa Barat