Seketika teori
tabula rasa John Locke terpatahkan oleh dasar-dasar filosofis pemikiran
pendidikan Ki hadjar Dewantara. Ya, sebagai seorang pendidik selama ini saya
memang mengakrabi istilah tabula rasa ini yang menyatakan bahwa seorang anak
terlahir ibarat kertas kosong. Karena diibaratkan seperti kertas kosong maka
orang-orang di sekitarnya mempunyai kewajiban untuk menggoreskan sesuatu kepadanya
tentunya dengan sesuatu yang positif agar kelak anak tersebut menjadi manusia
yang baik. Namun, ternyata pemahaman John Locke tersebut terpatahkan dengan
filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menyebutkan bahwa seorang anak
bukanlah kertas kosong.
Sejak lahir ke
dunia fana ini seorang anak sudah memiliki kodrat alam dan kodrat zamannya
sendiri. “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai
keinginan orang dewasa” Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih
samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak
untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi
manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)
Lalu
pertanyaannya adalah bagaimana cara menebalkan kekuatan kodrat yang masih
samar-samar tersebut? Menurut Ki Hadjar Dewantara cara seorang pendidik untuk
menebalkan kekuatan kodrat anak yang masih samar tersebut agar dapat
memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya yakni dengan pendekatan
sosio-kultural.
Dengan
pembiasaan dan melakukan kebiasaan yang berhubungan dengan sosio-kultural maka
kelak laku seorang anak akan lebih baik. Sebagai pendidik dan pengampu mata
pelajaran Bahasa Indonesia di sebuah sekolah kejuruan, aksi nyata yang saya
lakukan setelah memahami konsep filosofis Ki Hadjar Dewantara dengan
menggarisbawahi pemahaman bahwa seorang anak bukan kertas kosong yakni
diantaranya dengan cara menjadi contoh langsung bagi mereka dalam berperilaku
dan membiasakan diri membawa diri sebagai Orang Sunda yang someah dengan mengedepankan senyum, sapa, salam, sopan, dan
santun. Tidak ada salahnya sebagai orang yang lebih tua, kita sebagai
seorang pendidik untuk tersenyu, menyapa, mengucapkan salam terlebih dahulu
kepada peserta didik kita dan bersikap sopan santun setiap berinteraksi dengan
mereka baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Ketika sudah terjalin
hubungan yang harmonis dan nyaman dengan membiasakan diri bersikap someah
seperti itu, niscaya apapun yang kita ucapkan atau sikap yang kita perlihatlan
akan mereka terima sebagai suatu kebaikan. Jika mereka sudah menerima semua
"kebaikan" kita sebagai pendidik, kelak mereka akan
mengaplikasikannya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan
dewasanya baik sebagai seorang individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.***
*) Penulis adalah Calon Guru
Penggerak Angkatan 5 dan seorang pendidik pengampu mata pelajaran Bahasa
Indonesia di SMKN 2 Sumedang, Jawa Barat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar