Jumat, 07 Oktober 2022

JURNAL REFLEKSI 1: Langkah Baru, Pemahaman Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

 


Seketika teori tabula rasa John Locke terpatahkan oleh dasar-dasar filosofis pemikiran pendidikan Ki hadjar Dewantara. Ya, sebagai seorang pendidik selama ini saya memang mengakrabi istilah tabula rasa ini yang menyatakan bahwa seorang anak terlahir ibarat kertas kosong. Karena diibaratkan seperti kertas kosong maka orang-orang di sekitarnya mempunyai kewajiban untuk menggoreskan sesuatu kepadanya tentunya dengan sesuatu yang positif agar kelak anak tersebut menjadi manusia yang baik. Namun, ternyata pemahaman John Locke tersebut terpatahkan dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menyebutkan bahwa seorang anak bukanlah kertas kosong.

Sejak lahir ke dunia fana ini seorang anak sudah memiliki kodrat alam dan kodrat zamannya sendiri.    “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”   Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)

Lalu pertanyaannya adalah bagaimana cara menebalkan kekuatan kodrat yang masih samar-samar tersebut? Menurut Ki Hadjar Dewantara cara seorang pendidik untuk menebalkan kekuatan kodrat anak yang masih samar tersebut agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya yakni dengan pendekatan sosio-kultural.

Dengan pembiasaan dan melakukan kebiasaan yang berhubungan dengan sosio-kultural maka kelak laku seorang anak akan lebih baik. Sebagai pendidik dan pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di sebuah sekolah kejuruan, aksi nyata yang saya lakukan setelah memahami konsep filosofis Ki Hadjar Dewantara dengan menggarisbawahi pemahaman bahwa seorang anak bukan kertas kosong yakni diantaranya dengan cara menjadi contoh langsung bagi mereka dalam berperilaku dan membiasakan diri membawa diri sebagai Orang Sunda yang someah dengan mengedepankan senyum, sapa, salam, sopan, dan santun.  Tidak ada salahnya sebagai orang yang lebih tua, kita sebagai seorang pendidik untuk tersenyu, menyapa, mengucapkan salam terlebih dahulu kepada peserta didik kita dan bersikap sopan santun setiap berinteraksi dengan mereka baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Ketika sudah terjalin hubungan yang harmonis dan nyaman dengan membiasakan diri bersikap someah seperti itu, niscaya apapun yang kita ucapkan atau sikap yang kita perlihatlan akan mereka terima sebagai suatu kebaikan. Jika mereka sudah menerima semua "kebaikan" kita sebagai pendidik, kelak mereka akan mengaplikasikannya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan dewasanya baik sebagai seorang individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.***

*) Penulis adalah Calon Guru Penggerak Angkatan 5 dan seorang pendidik pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMKN 2 Sumedang, Jawa Barat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar